Konflik Amerika Serikat-Iran Picu Lonjakan Pengangguran di Inggris

Share

Lonjakan tingkat pengangguran secara mengejutkan mengguncang Inggris sebagai dampak dari ketegangan militer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Kondisi ini memicu badai pemutusan hubungan kerja (PHK) serta penurunan drastis pada ketersediaan lowongan pekerjaan ke titik terendah dalam lima tahun terakhir.

Berdasarkan laporan resmi Kantor Statistik Nasional Inggris (ONS) yang dilansir dari Detik Finance pada Jumat (29/5/2026), angka pengangguran melesat hingga 5 persen pada kuartal I-2026. Data Februari-April 2026 juga menunjukkan penciutan jumlah lowongan kerja sebesar 3,9 persen atau berkurang 28.000 posisi menjadi hanya 705.000 lowongan.

Penurunan ketersediaan lapangan kerja ini terjadi karena pelaku usaha memilih untuk menunda perekrutan staf baru. Di sisi lain, peningkatan angka PHK dipicu oleh pembengkakan biaya tenaga kerja yang mencakup penyesuaian pajak ketenagakerjaan.

Sektor dengan upah rendah tercatat menjadi wilayah yang paling terdampak oleh kelesuan pasar tenaga kerja ini. ONS mengonfirmasi bahwa industri retail dan perhotelan berada di garis depan dalam penurunan jumlah pekerja.

"Sektor-sektor dengan gaji rendah seperti perhotelan dan ritel telah mengalami penurunan terbesar dalam jumlah lowongan dan jumlah karyawan, baik dalam beberapa bulan terakhir maupun selama setahun terakhir," kata Direktur Statistik Ekonomi ONS, Liz McKeown.

Penurunan daya serap tenaga kerja diproyeksikan para analis akan terus berlanjut apabila konflik geopolitik tersebut berlangsung berkepanjangan. Kombinasi antara berkurangnya lapangan kerja dan perlambatan pertumbuhan upah diprediksi memaksa Bank of England (BoE) menaikkan suku bunga demi meredam gejolak inflasi.

Rata-rata pertumbuhan pendapatan warga Inggris merosot ke angka 3,4 persen pada kuartal I-2026, atau hanya tersisa 0,3 persen setelah kalkulasi inflasi. Meski perlambatan upah umumnya memicu pemangkasan suku bunga, kekhawatiran atas inflasi yang tinggi membuat otoritas moneter mengambil langkah berbeda.

"Mengingat kekhawatiran inflasi, suku bunga tetap lebih higher untuk waktu yang lebih lama," ucap Kepala Strategi di Wealth Club, Susannah Streeter.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
melinda-putri-handayani
Author