Kontrak Berjangka S&P 500 Melemah Dipicu Ketegangan AS-Iran

Share

Kontrak berjangka saham Amerika Serikat mengalami penurunan dan harga minyak mentah bergerak naik pada awal perdagangan di Asia. Pergerakan ini dipicu oleh pembicaraan antara Washington dan Teheran yang dibayangi ancaman militer baru dari Donald Trump. Seperti dikutip dari Bloombergtechnoz, pasar keuangan juga mencermati pelemahan mata uang pound sterling.

Tekanan pada mata uang Inggris tersebut terjadi di tengah spekulasi mengenai kelanjutan masa jabatan Keir Starmer sebagai perdana menteri. Kontrak indeks S&P 500 melemah 0,3% pada pukul 07.02 waktu Tokyo setelah pasar AS sempat tutup karena hari libur. Sementara itu, minyak mentah Brent dibuka menguat lebih dari 2% dan dolar AS menguat terhadap mayoritas mata uang utama.

Delegasi Amerika Serikat dan Iran sebenarnya tengah melangsungkan pertemuan di Swiss. Dialog tersebut bertujuan menyepakati perdamaian terkait program nuklir Iran sekaligus mengupayakan pembukaan kembali Selat Hormuz secara permanen.

Namun, ketegangan meningkat setelah Trump kembali melontarkan ancaman serangan militer. Presiden AS tersebut menyatakan siap bertindak jika kelompok Hizbullah terus melanjutkan serangan terhadap Israel. Pernyataan tersebut menguji optimisme para pelaku pasar global. Sebelumnya, bursa saham sempat mencatat reli kuat setelah kedua negara mengakhiri blokade ganda di Selat Hormuz yang sempat berlangsung selama berbulan-bulan.

Meskipun dibayangi konflik, performa saham global tercatat telah tumbuh 15% sepanjang kuartal kedua tahun ini. Capaian tersebut berada dalam jalur kenaikan kuartalan terbesar dalam periode enam tahun terakhir. “Potensi gagalnya Nota Kesepahaman AS-Iran, yang masih sangat rapuh mengingat peristiwa-peristiwa selama akhir pekan,” merupakan salah satu risiko terbesar bagi kenaikan saham, tulis Tony Sycamore, analis di IG yang berbasis di Sydney, dalam catatan kepada klien.

Fokus Suku Bunga China dan Isu Politik Inggris

Investor di kawasan Asia kini mengalihkan perhatian pada pengumuman suku bunga pinjaman perbankan komersial China. Langkah ini diambil di tengah indikasi bahwa momentum pertumbuhan ekonomi negara tersebut mulai melambat. Suku bunga pinjaman acuan atau loan prime rates diprediksi tidak berubah.

Kuatnya sektor ekspor serta pertumbuhan industri kecerdasan buatan dinilai mengurangi urgensi bagi pemerintah China untuk menambah stimulus. Di Eropa, mata uang pound sterling merosot mendekati level terendah baru tahun ini. Penurunan ini dipicu kabar bahwa Keir Starmer berpotensi mengumumkan jadwal pengunduran dirinya dalam waktu dekat.

Starmer dilaporkan menghabiskan beberapa hari terakhir untuk mengevaluasi posisinya. Ia menghadapi tekanan politik internal dari Wali Kota Greater Manchester Andy Burnham yang baru saja terpilih sebagai anggota parlemen.

Melalui unggahan di media sosial Truth Social, Trump mengklaim bahwa Starmer akan segera mundur. Kendati demikian, pejabat pemerintah Inggris menegaskan tidak ada informasi resmi yang disampaikan kepada Trump mengenai hal tersebut. Ketidakpastian figur pemimpin ini menimbulkan kekhawatiran baru bagi para investor terkait kebijakan fiskal Inggris di masa depan. Pasar mengkhawatirkan potensi pembengkakan penerbitan obligasi baru untuk mendanai belanja negara saat beban utang sudah tinggi.

Rincian Pergerakan Pasar Global

Mata uang euro terpantau bergerak stagnan pada level US$1,1465, sementara yen Jepang berada di posisi 161,36 per dolar AS. Untuk yuan offshore, nilainya berada di angka 6,7862 per dolar AS dan dolar Australia di US$0,7009.

Pada sektor aset kripto, Bitcoin bergerak relatif stabil pada harga US$63.710,12. Di sisi lain, harga Ether mengalami penurunan tipis sebesar 0,1% menjadi US$1.717,42.

Untuk sektor komoditas, minyak mentah West Texas Intermediate mencatat kenaikan sebesar 2,5% ke level US$77,71 per barel. Sementara itu, untuk komoditas emas spot dilaporkan tidak mengalami perubahan harga yang signifikan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
daffa-raihan-maulana
Author