Kontroversi Perfect Crown Paksa Toko Pop-Up Tutup Lebih Awal

Share

Toko pop-up drama Korea Perfect Crown di The Hyundai Seoul, Distrik Yeongdeungpo, terpaksa ditutup lebih awal mulai Senin (25/5/2026) akibat gelombang protes penonton terkait dugaan distorsi sejarah. Penutupan tempat penjualan suvenir resmi drama produksi MBC ini dilakukan tiga hari lebih cepat dari jadwal yang seharusnya berlangsung hingga pertengahan pekan, seperti dilansir dari Detikcom.

Pihak penyelenggara mengumumkan kepada para pemegang tiket bahwa perubahan jadwal dan format acara ini terjadi karena alasan operasional di lokasi. Meski demikian, pengelola tidak menyebutkan secara langsung bahwa penghentian mendadak ini disebabkan oleh kontroversi tayangan, sementara penjualan produk pelengkap drama sudah resmi dihentikan sejak Sabtu (23/5).

Kekecewaan penonton Korea Selatan memuncak setelah penayangan episode 11 pada 15 Mei lalu yang menampilkan visualisasi upacara kenaikan takhta Pangeran Agung Ian yang diperankan oleh Byeon Woo Seok. Tim produksi menggunakan mahkota sembilan rumbai yang dalam konteks sejarah menandakan status wilayah bawahan, padahal setelah proklamasi Kekaisaran Korea tahun 1897 oleh Raja Gojong seharusnya mahkota yang dipakai memiliki 12 rumbai sebagai simbol negara berdaulat.

Kritik tajam juga mengarah pada dialog dalam adegan sakral tersebut, di mana tim produksi memilih kalimat penanda ketundukan kepada kekaisaran lain.

"Cheonse!" seru tokoh dalam dialog tersebut.

Penggunaan seruan yang berarti hidup panjang seribu tahun itu dinilai keliru karena semestinya menggunakan kata yang menandakan kedaulatan penuh sebuah negara merdeka.

"Manse!" cetus penonton mengenai dialog yang seharusnya digunakan untuk arti sepuluh ribu tahun.

Gelombang protes ini turut menyeret adegan lama yang melibatkan karakter Seong Hui Ju yang diperankan oleh IU saat menuangkan air ke wadah penampung karena dianggap meniru tata cara minum teh dari Tiongkok. Sentimen sensitif ini memicu ingatan publik pada materi buku teks sejarah mengenai masa dinasti Goryeo dan Joseon yang harus mempertahankan hubungan upeti, termasuk peristiwa menyerahnya Raja Injo kepada Kaisar Qing pada 1649 yang dipandang sebagai penghinaan nasional.

Stasiun televisi MBC selaku pihak penyiaran telah menyampaikan pernyataan resmi pada akhir pekan lalu yang menegaskan bahwa mereka akan menghapus adegan-adegan kontroversial di dalam drama tersebut. Namun, langkah penyesuaian konten digital dari pihak stasiun televisi ini belum mampu meredakan kemarahan publik serta kontroversi yang telanjur meluas.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author