Koper Penumpang Picu Kepanikan di Bandara Avalon Australia

Share

Kepanikan sempat melanda Bandara Avalon di Australia setelah muncul dugaan adanya bahan peledak militer di dalam bagasi seorang penumpang. Petugas kepolisian bersama tim penjinak bom langsung dikerahkan ke lokasi untuk menangani situasi tersebut.

Robot dari Bomb Response Unit melakukan pemeriksaan intensif terhadap barang mencurigakan tersebut selama empat jam. Berdasarkan laporan yang dikutip dari Detik Travel, benda yang dicurigai sebagai bom itu ternyata hanya sebuah alat penghilang rambut laser dan wadah cokelat panas.

Peristiwa ini kembali memicu perhatian terhadap sistem pengamanan di Bandara Avalon, yang merupakan bandara terbesar kedua di Melbourne. Pada Maret tahun lalu, bandara ini juga sempat menjadi perbincangan publik setelah seorang pria diduga mencoba melakukan pembajakan dengan menerobos pagar pengamanan.

Melansir ABC News, Kamis (28/5/2026), rentetan insiden di sejumlah bandara Australia kembali membuka diskusi mengenai standar keamanan penerbangan nasional. Pemerintah Australia sebelumnya pernah menggelontorkan dana hampir 300 juta AUD atau sekitar Rp 3,83 triliun pada tahun 2018 demi menangkal rencana teror terhadap penerbangan Etihad dari Sydney.

Meski demikian, mekanisme pengamanan bandara di Australia tidak seragam karena disesuaikan dengan kategori masing-masing. Bandara utama di kota-kota besar menerapkan pengawasan yang jauh lebih ketat daripada bandara regional yang berukuran lebih kecil.

"Penetapan klasifikasi bandara yang dikendalikan keamanannya didasarkan pada profil risiko keseluruhan bandara," kata juru bicara Kementerian Dalam Negeri Australia.

Proses penilaian risiko tersebut meliputi jenis layanan penerbangan, kapasitas armada pesawat, volume pergerakan penumpang, hingga ada atau tidaknya jalur penerbangan internasional. Ketimpangan standar pengamanan ini pada akhirnya turut memengaruhi beban biaya operasional setiap bandara.

Bandara berskala besar mampu mengalokasikan ratusan juta dolar Australia untuk mengadopsi teknologi pemindai paling mutakhir. Sebaliknya, bandara regional diwajibkan mendanai sendiri peningkatan sistem pengamanan ketika status klasifikasi mereka dinaikkan.

Sebagai contoh, Bandara Burnie di Tasmania diperkirakan memerlukan dana hingga AUD 30 juta atau setara Rp 383 miliar untuk memasang sistem pengamanan baru. Selain itu, mereka harus menanggung biaya operasional tambahan sebesar AUD 2,5 juta atau sekitar Rp 31 miliar per tahun, yang berpotensi menaikkan harga tiket penerbangan hingga AUD 170 atau Rp 2,1 juta per penumpang.

Pakar keamanan penerbangan, Steve Lawson, menyebutkan bahwa pemenuhan biaya pengamanan ini menjadi persoalan pelik bagi bandara-bandara kecil.

"Sebagian besar bandara kecil dimiliki pemerintah daerah yang anggarannya sudah terbatas," ujar Lawson.

"Jika mereka diminta memasang peralatan yang terlalu mahal, pemerintah biasanya membantu pembelian. Namun salah satu masalah terbesar adalah kebutuhan staf dan biayanya," lanjutnya.

Walaupun hasil audit Pemerintah Australia terdahulu sempat mengkritik lemahnya pencatatan data pengamanan, Lawson menegaskan standar penerbangan di negara tersebut tetap berada di level tertinggi.

"Saya bisa mengatakan dengan yakin, keamanan bandara Australia lebih baik dibanding 99,9 persen negara lain," tegas Lawson.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
danto-wijaya-kusuma
Author