Krisis Karoshi Mengancam Dunia Kerja akibat Jam Kerja Berlebih
Budaya kerja dengan intensitas tinggi kini memicu krisis global yang mengkhawatirkan. Fenomena karoshi atau kematian akibat kelelahan kerja ekstrem tidak lagi menjadi masalah domestik satu negara. Dikutip dari Detik iNET, komitmen kerja ekstrem ini berakar dari kesepakatan pasca-Perang Dunia II.
Saat itu, pengusaha memberikan jaminan kerja seumur hidup demi loyalitas total karyawan. Sistem tersebut berhasil mendorong lonjakan ekonomi secara masif hingga awal 1990-an. Namun, pemulihan ekonomi tersebut dibayar mahal dengan munculnya kasus kematian di meja kerja.
Gejala karoshi mulai teridentifikasi sejak tahun 1969 melalui serangan jantung dan stroke. Selain itu, muncul fenomena karojisatsu atau tindakan mengakhiri hidup akibat tekanan psikologis yang berat.
Data Kementerian Kesehatan Jepang mencatat ada 1.304 kasus karoshi yang terdokumentasi pada tahun 2024. Tingginya angka ini sejalan dengan durasi kerja yang melewati batas wajar. Riset tahun 2023 menunjukkan 10,1 persen laki-laki dan 4,2 persen perempuan bekerja di atas 60 jam per minggu. Pada sektor wiraswasta, angka tersebut melonjak menjadi 15,4 persen bagi laki-laki.
Pemerintah setempat berupaya mengetatkan regulasi jam kerja untuk membenahi ekosistem ini. Kendati demikian, intervensi kebijakan tersebut dinilai berjalan sangat lambat dan belum merata.
Dampak Global Jam Kerja Panjang
Studi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2021 menunjukkan dampak fatal dari durasi kerja berlebih. WHO memperkirakan sekitar 745.000 orang di dunia meninggal akibat stroke dan penyakit jantung pada 2016. Bekerja minimal 55 jam seminggu meningkatkan risiko stroke sebesar 35 persen.
Risiko kematian akibat penyakit jantung iskemik juga naik 17 persen dibanding durasi kerja normal. Kelompok laki-laki mendominasi angka kematian tersebut dengan persentase mencapai 72 persen. Wilayah Asia Tenggara dan Pasifik Barat menjadi area dengan dampak paling parah.
Kondisi ini kini merambah ke Eropa Barat dan Amerika Utara akibat sistem kerja jarak jauh. Fleksibilitas digital justru mengaburkan batas ruang personal dan mendorong eksploitasi waktu kerja.