Krisis Timur Tengah Picu Lonjakan Yield Obligasi Global dan Wall Street

Share

Kekhawatiran atas memanasnya konflik di Timur Tengah memicu lonjakan biaya utang pemerintah di sejumlah negara maju ke level tertinggi dalam lebih dari satu dekade, sekaligus menekan bursa saham Wall Street pada perdagangan Kamis (20/8/2026).

Eskalasi geopolitik tersebut meningkatkan kecemasan investor bahwa inflasi tinggi akan bertahan lebih lama, sehingga membatasi ruang bagi bank-bank sentral dunia untuk melonggarkan kebijakan moneter ketat mereka.

Kenaikan imbal hasil (yield) terjadi ketika harga obligasi melemah di tengah ekspektasi tingginya penerbitan surat utang dan risiko harga energi. Di Eropa, yield obligasi pemerintah Prancis tenor 30 tahun naik ke level 4,8558 persen yang merupakan angka tertinggi sejak September 2008, sementara tenor 10 tahun menyentuh 4,0516 persen. Yield obligasi Jerman tenor 10 tahun turut meningkat hingga 3,2138 persen, level tertinggi sejak 2011. Pasar keuangan memproyeksikan peluang Bank Sentral Eropa (ECB) menaikkan suku bunga pada September mencapai hampir 85 persen.

Tekanan serupa melanda Amerika Serikat, di mana yield obligasi tenor 30 tahun sempat menembus 5,327 persen pada 18 Agustus, tertinggi sejak 2007. Sementara yield tenor 10 tahun bertahan di kisaran 4,71 persen akibat ketidakpastian di Selat Hormuz yang menahan harga minyak mentah jenis Brent di level US$91 per barel.

Kondisi ini memicu aksi pelepasan aset berisiko di Bursa Efek New York. Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup merosot 703,84 poin atau 1,32 persen ke level 52.759,21, S&P 500 melemah 0,87 persen ke 7.641,16, dan Nasdaq Composite terkoreksi 1 persen ke posisi 26.067,17. Selain lonjakan yield, penurunan tajam saham Walmart sebesar 9,2 persen usai merilis kinerja penjualan di bawah ekspektasi makin memperburuk sentimen pasar.

Kepala Strategi Investasi Edward Jones, Mona Mahajan, menilai tekanan pada sektor konsumer AS kian membesar menyusul lonjakan harga energi di tengah melambatnya data pasar tenaga kerja.

"Muncul pertanyaan mengenai seberapa besar ketahanan konsumen di tengah harga bensin yang terus tinggi dan tekanan inflasi," kata Mona Mahajan, Kepala Strategi Investasi Edward Jones.

Langkah Departemen Keuangan AS yang mengumumkan rencana peningkatan volume pembelian kembali (buyback) surat utang sempat menahan laju kenaikan yield, namun dampaknya relatif terbatas di pasar saham.

"Ada beberapa tekanan yang dihadapi pasar ketika perdagangan dibuka hari ini. Salah satunya adalah kenaikan kembali yield obligasi di berbagai tenor yang terjadi meskipun ada langkah Departemen Keuangan kemarin," kata Mona Mahajan, Kepala Strategi Investasi Edward Jones.

Berbeda dengan gejolak pasar global, pasar keuangan domestik Indonesia masih mencatatkan ketahanan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 0,75 persen ke level 6.449,83 pada 18 Agustus, sementara nilai tukar rupiah bergerak stabil di posisi Rp17.819 per dolar AS menjelang keputusan BI Rate.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
yoga-prasetyo-nugroho
Author