Krisis Utang Pribadi Melanda 100 Juta Konsumen di China

Share

Sebanyak 100 juta konsumen di China kini tengah berjuang membayar utang pribadi mereka yang melonjak drastis hingga memicu krisis terselubung skala besar pada pertengahan Juni 2026. Fenomena ini dilaporkan mengancam upaya pemerintah Beijing dalam membangkitkan kembali perekonomian terbesar kedua di dunia tersebut.

Kredit macet konsumen mulai dari kartu kredit hingga kredit pemilikan rumah (KPR) melonjak signifikan dalam beberapa tahun terakhir, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz. Berdasarkan data firma riset Gavekal Dragonomics, utang rumah tangga yang tidak lancar melonjak 21 persen pada tahun lalu hingga mencetak rekor setidaknya 2,22 triliun yuan atau sekitar US$329 miliar.

Firma tersebut menganalisis laporan keuangan dari 26 bank dan sumber data lainnya setelah otoritas China berhenti merilis data agregat mengenai kredit pribadi yang menunggak dan gagal bayar. Sementara itu, analisis dari Institut Riset Keuangan Universitas Zhejiang menyebutkan bahwa lembaga keuangan China kemungkinan harus membereskan utang pribadi macet senilai 2 triliun hingga 3 triliun yuan setiap tahunnya. Estimasi tersebut menunjukkan bahwa hingga akhir tahun 2025, sebanyak 10,6 persen dari total 1,1 miIiar populasi dewasa di China mengalami keterlambatan pembayaran utang.

Analis keuangan China di Gavekal, Xiaoxi Zhang menilai situasi ini tidak akan membaik tanpa adanya kebijakan pemerintah yang lebih agresif.

"Kredit macet pribadi akan terus menumpuk," ujar Xiaoxi Zhang, analis keuangan China di Gavekal.

Tingginya beban utang ini mulai merusak upaya nasional untuk menggenjot konsumsi domestik karena bank-bank menjadi kian selektif dan membatasi kredit baru. Sebagian besar ledakan utang jangka pendek di China didorong oleh platform pinjaman digital yang dioperasikan oleh raksasa teknologi seperti Ant Group Co, ByteDance Ltd, dan Meituan yang menawarkan pinjaman dengan suku bunga tahunan berkisar dari 4 persen hingga lebih dari 24 persen.

Kemudahan meminjam uang tanpa hambatan melalui platform daring ini kini mulai berdampak pada generasi muda, salah satunya Hu Jing yang merupakan seorang pramusaji berusia 23 tahun di Shanghai.

"Saya menerima telepon dan pesan penagihan setiap hari," kata Hu Jing, pramusaji.

"Saya benar-benar tidak tahu harus berbuat apa," kata Hu Jing, pramusaji.

Dalam satu dekade terakhir, utang rumah tangga di China telah melonjak hampir tiga kali lipat menjadi sekitar 83 triliun yuan. Kurang dari 3 persen dari total utang rumah tangga berstatus macet, namun China belum memiliki undang-undang kepailitan pribadi nasional untuk membantu individu merestrukturisasi utang mereka.

Sebagai respons, Bank Sentral China (PBOC) pada akhir tahun lalu meluncurkan program pemutihan kredit sekali seumur hidup bagi individu dengan utang tertunggak hingga 10.000 yuan. Regulator juga telah menginstruksikan platform daring untuk membatasi suku bunga rata-rata pinjaman baru di bawah angka 20 persen.

Tekanan pada kredit konsumen ini terjadi di saat sektor perbankan China juga berjuang menghadapi krisis properti. Di Industrial & Commercial Bank of China Ltd (ICBC), rasio kredit macet (NPL) untuk utang kartu kredit melonjak menjadi 4,61 persen tahun lalu.

Kepala riset keuangan Asia di UBS Group AG, May Yan menjelaskan bahwa ketidakpastian ekonomi membuat masyarakat yang memiliki kemampuan membayar justru enggan meminjam uang.

"Mereka yang memiliki kemampuan membayar lebih kuat justru enggan meminjam di tengah ketidakpastian ekonomi dan menurunnya kekayaan rumah tangga, sementara kelompok masyarakat yang lebih rentan justru mengambil utang secara berlebihan," jelas May Yan, kepala riset keuangan Asia di UBS Group AG.

Dampak fatal juga dirasakan oleh Ma Jun, seorang kontraktor konstruksi berusia 57 tahun dari provinsi Jiangsu timur yang terjerat utang setelah bisnisnya mengalami krisis arus kas pada tahun 2021.

"Ini seperti berjalan masuk ke dalam jebakan," kenang Ma Jun, kontraktor konstruksi.

Ma Jun kini telah mendapatkan pekerjaan sebagai karyawan bergaji sejak tahun 2024 dan fokus melunasi sisa utangnya sebesar 30.000 yuan dengan hidup dalam penghematan ekstrem.

"Ini benar-benar menjadi bencana bagi saya dan keluarga," ujar Ma Jun, kontraktor konstruksi.

"Saya berharap saya tidak pernah mengambil pinjaman-pinjaman itu, tetapi tidak ada gunanya menyesal sekarang," ujar Ma Jun, kontraktor konstruksi.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
kartika-dewi-anggraini
Author