KTT G7 2026 Bahas Krisis Ukraina dan Dampak Perang Iran

Share

Para pemimpin negara terkaya di dunia berkumpul di Evian-les-Bains, Prancis, pada 15–17 Juni 2026 untuk menghadiri KTT G7 yang didominasi pembahasan eskalasi perang di Ukraina dan Iran, dilansir dari Detikcom. Pertemuan tingkat tinggi selama tiga hari ini dibayangi oleh dampak keamanan serta guncangan ekonomi global setelah Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari lalu. Konflik yang berjalan hampir 15 pekan tersebut memicu blokade Selat Hormuz oleh Iran, sehingga memotong 20 persen pasokan minyak dunia dan melonjakkan harga pangan serta barang rumah tangga akibat terputusnya akses komoditas utama.

Selain anggota inti G7, Presiden Prancis Emmanuel Macron turut mengundang pemimpin Mesir, Qatar, Ukraina, Uni Emirat Arab, Brasil, India, Kenya, dan Korea Selatan guna membahas stabilitas ekonomi serta rantai pasok mineral kritis.

Uni Eropa yang diwakili Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dan Presiden Dewan Eropa Antonio Costa menegaskan sikap mereka terkait kerangka sanksi internasional sebelum para kepala negara tiba di Hotel Royal. "Implementasi adalah prioritas," kata Ursula von der Leyen, Presiden Komisi Eropa.

Pihak Uni Eropa menyatakan kesiapan untuk mencabut sanksi jika ada perubahan nyata di lapangan, namun tetap menerapkan syarat ketat terkait pelanggaran hak asasi manusia dan senjata pemusnah massal. "Kami memiliki kerangka sanksi yang merespons dua hal utama: pelanggaran hak asasi manusia dan senjata pemusnah massal," kata Ursula von der Leyen, Presiden Komisi Eropa.

Ia menambahkan bahwa sanksi tersebut dirancang untuk mengubah perilaku dan setiap pelonggaran membutuhkan pembuktian yang kredibel. "Prinsip sanksi adalah bahwa kita memerlukan perubahan nyata di lapangan sebelum kita dapat mempertimbangkan untuk mencabutnya. Sanksi diberlakukan untuk mengubah perilaku," kata Ursula von der Leyen, Presiden Komisi Eropa. Sikap tegas ini menjadi batasan diplomasi Eropa di tengah ketidakpastian mengenai strategi apa yang akan dibawa oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam kesepakatan dengan Iran.

"Jika perilaku berubah secara kredibel dan dapat diverifikasi, sanksi dapat diakhiri, tetapi hal sebaliknya juga berlaku," kata Ursula von der Leyen, Presiden Komisi Eropa.

Uni Eropa juga memanfaatkan momentum ini untuk meluncurkan kembali pembicaraan aksesi Ukraina yang sempat tertunda selama lebih dari dua tahun. "Kyiv telah memenuhi tugasnya, kini giliran UE," kata Ursula von der Leyen, Presiden Komisi Eropa. Langkah pembukaan kembali investasi politik dan integrasi Eropa ini dinilai sebagai keputusan krusial di tengah tekanan sanksi terhadap Rusia.

"Langkah bersejarah," kata Antonio Costa, Presiden Dewan Eropa.

Di sisi lain, situasi KTT G7 sempat memanas akibat ancaman dagang unilateral yang dilontarkan oleh kubu Amerika Serikat mengenai pengenaan pajak digital di Eropa. "Jika mereka tetap melakukannya, saya tidak punya pilihan selain mengenakan tarif 100 persen terhadap semua sampanye dan semua anggur dari Prancis," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Ancaman tarif tinggi tersebut langsung mendapatkan respons keras dari tuan rumah yang menganggap kebijakan pajak domestik sebagai hak mutlak negara mereka. "Ini adalah bagian dari hukum kami. Bukan Amerika Serikat yang menentukan hukum bagi Eropa," kata Emmanuel Macron, Presiden Prancis.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
daffa-raihan-maulana
Author