Kuliner Betawi Langka hingga Bakso Legendaris Jakarta Ramai Disorot
Hidangan tradisional Betawi yang kian langka serta deretan tempat makan legendaris di Jakarta kini tengah menjadi perhatian masyarakat. Makanan lawas ini terus berjuang bertahan di tengah gempuran tren kuliner modern yang dinamis. Dilansir dari Detik Food, beberapa sajian khas Jakarta tercatat semakin sulit ditemukan menjelang perayaan hari ulang tahun kota ini.
Kelangkaan tersebut dipicu oleh sulitnya bahan baku serta proses pembuatan yang tergolong rumit. Sayur Babanci menjadi salah satu hidangan yang kini sangat jarang dijumpai. Kuliner berkuah santan dengan isian daging sapi dan campuran rempah lengkap ini mulai ditinggalkan karena proses memasaknya yang membutuhkan keahlian khusus.
Nasib serupa juga menimpa Sayur Besan yang secara tradisi menjadi hidangan wajib dalam upacara pernikahan adat Betawi. Menu ini mengandalkan bahan utama berupa terubuk, sejenis bunga tebu yang keberadaannya sekarang semakin langka di pasaran.
Selain itu, Bubur Ase kini mulai tergeser oleh berbagai pilihan menu sarapan modern yang lebih praktis. Sementara itu, Gabus Pucung yang terkenal dengan kuah hitam kluweknya juga kian sulit ditemukan akibat keterbatasan pasokan bahan baku dan berkurangnya jumlah penjual.
Deretan Kedai Bakso Legendaris di Ibu Kota
Di sisi lain, beberapa tempat makan bakso legendaris di Jakarta justru berhasil mempertahankan eksistensinya selama puluhan tahun. Kedai-kedai ini tetap menjadi destinasi favorit pelanggan karena konsistensi cita rasanya yang terjaga sejak dulu. Salah satunya adalah Bakso Cendana di Jalan Teuku Umar, Jakarta Pusat, yang telah melayani pembeli sejak tahun 1965. Warung ini menawarkan menu bakso urat dan bakso telur yang disajikan bersama tambahan tetelan sapi.
Pilihan lainnya adalah Bakso Titoti yang didirikan sejak tahun 1971 dan populer dengan racikan khas Wonogiri. Sementara di kawasan Pondok Bambu, terdapat Bakso Selera yang menyajikan rasa otentik khas Solo sejak tahun 1969. Tidak ketinggalan, Bakso Mas Kumis juga tetap memikat banyak pelanggan setianya. Tempat ini mengandalkan menu utama berupa bakso daging sapi polos bertekstur empuk yang dipadukan dengan kuah kaldu gurih serta limpahan tetelan.
Kisah Mantan Pramugari Banting Setir Jualan Seafood
Perhatian publik juga tertuju pada kisah inspiratif Amber Tan, seorang mantan pramugari Singapore Airlines. Perempuan berusia 35 tahun tersebut kini memilih profesi baru sebagai penjual seafood di Jurong Fishery Port, Singapura.
Amber Tan tercatat menginvestasikan tabungan pribadinya sebesar SGD170.000 atau sekitar Rp2,3 miliar untuk merintis usaha grosir seafood bersama mantan kekasihnya. Namun, bisnis tersebut sempat mengalami krisis keuangan yang serius hingga hampir bangkrut. Setelah hubungan asmaranya berakhir, Amber Tan mengambil alih seluruh pengelolaan operasional usaha tersebut secara mandiri.
Ia meluangkan waktu selama dua bulan untuk belajar berdagang ikan langsung di pasar tradisional. Saat ini, Amber Tan menangani sendiri seluruh proses penyortiran komoditas seperti ikan, kepiting, hingga cumi-cumi. Ia juga mengelola sistem pesanan daring sekaligus mengantarkan langsung produk seafood tersebut kepada para pelanggannya.