Kunci Umur Panjang Masyarakat Jepang Capai Usia Centenarian

Share

Jepang secara konsisten menempati posisi puncak secara global dalam hal angka harapan hidup tertinggi. Negara ini dilansir dari Detik Health kini menjadi tempat tinggal bagi 95.119 orang centenarian, yaitu penduduk yang berhasil mencapai usia 100 tahun atau lebih. Mayoritas dari kelompok berumur panjang ini didominasi oleh kaum perempuan.

Sebanyak 88 persen dari total centenarian di Jepang merupakan wanita, dengan rekor usia tertua saat ini mencapai 116 tahun di kota Ashiya.

Sementara itu, usia tertua untuk laki-laki berada di angka 110 tahun. Para peneliti kesehatan di seluruh dunia terus mempelajari fenomena medis ini.

Rahasia umur panjang masyarakat Jepang ternyata bukan terletak pada obat-obatan mahal atau terapi medis rumit, melainkan pada perpaduan rutinitas harian yang sangat sederhana. Aktivitas fisik di Jepang menjadi bagian dari gaya hidup normal, bukan sekadar tren olahraga di pusat kebugaran.

Data statistik menunjukkan sekitar 22 persen populasi Jepang terbiasa melakukan aktivitas fisik minimal dua kali seminggu dengan durasi sekitar 30 menit per sesi. Komitmen bergerak secara konsisten ini dikutip dari Futura Sciences membantu memelihara kesehatan kardiovaskular, menjaga mobilitas otot serta sendi, dan meningkatkan kebugaran keseluruhan. Pengaturan waktu makan yang stabil juga menjadi faktor kunci lainnya.

Warga Jepang memiliki kebiasaan menyantap makanan pada waktu yang sama dan tetap setiap harinya.

Konsistensi waktu makan ini secara klinis berkontribusi besar dalam mengoptimalkan sistem pencernaan manusia. Kebiasaan tersebut efektif mencegah perilaku makan berlebihan serta menjaga jam internal tubuh atau ritme sirkadian berfungsi baik. Pola stabil ini juga meregulasi metabolisme dan menjaga berat badan tetap ideal.

Konsumsi Pemanis Tradisional dan Sarapan Padat Gizi

Diet tradisional Jepang umumnya mengandung sangat sedikit gula olahan, berbeda dengan budaya barat yang gemar menyantap kue manis sebagai hidangan penutup.

Pembatasan konsumsi gula olahan tersebut secara langsung menurunkan risiko penyakit metabolik berbahaya seperti diabetes tipe 2. Sebagai pengganti gula, mereka memanfaatkan mizuame yang merupakan sirup alami hasil fermentasi beras dan malt.

Pemanis tradisional mizuame ini kaya akan unit glukosa yang lebih bersahabat bagi tubuh serta penggunaannya cenderung lebih hemat. Menu sarapan khas Jepang juga dinilai sangat padat gizi karena terdiri dari telur, tahu, nasi, ikan, atau daging dalam porsi kecil.

Karakteristik sarapan tersebut rendah karbohidrat olahan tetapi kaya akan lemak sehat serta protein. Kombinasi nutrisi ini mampu menjaga stabilitas energi dan mencegah lonjakan rasa lapar di siang hari. Tradisi minum ocha atau teh hijau setiap hari turut menyumbang asupan antioksidan katekin yang melimpah.

Senyawa kuat katekin ini efektif melindungi sel-sel tubuh dari kerusakan akibat stres oksidatif.

Para ahli menyarankan untuk membagi waktu minum teh sepanjang hari guna mengoptimalkan penyerapan gizi. Konsumsi teh hijau sebaiknya dihindari bersamaan dengan waktu makan, terutama bagi orang yang menjalani diet vegan, karena antioksidan di dalam teh dapat menghambat penyerapan zat besi dari tumbuh-tumbuhan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
gilang-permana-putra
Author