Minat Lelang Sukuk Mendingin Pemerintah Tetap Dongkrak Penyerapan

Share

Permintaan investor dalam lelang Surat Berharga Syariah Negara atau sukuk negara terpantau mengalami penurunan. Dilansir dari Bloomberg Technoz, total penawaran yang masuk pada lelang kemarin tercatat merosot cukup tajam sebesar 26,51 persen. Data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko menunjukkan angka penawaran turun menjadi Rp19,14 triliun.

Padahal pada agenda lelang sebelumnya, nilai penawaran mampu mencapai Rp26,05 triliun. Penurunan minat ini terlihat sangat signifikan pada instrumen dengan tenor menengah hingga panjang. Sebagai contoh, penawaran pada seri PBS038 dengan tenor 23 tahun anjlok lebih dari 86 persen dibandingkan lelang terdahulu.

Kondisi serupa melanda seri PBS040 bertenor 4 tahun yang menyusut sekitar 58 persen. Sementara itu, permintaan untuk seri PBS034 dengan jangka waktu 13 tahun mengalami koreksi hingga melampaui 32 persen.

Para pelaku pasar tampaknya cenderung lebih waspada untuk menempatkan dana mereka pada instrumen investasi jangka panjang. Di sisi lain, minat terhadap instrumen syariah berjangka pendek terpantau masih cukup kuat. Penawaran untuk Surat Perbendaharaan Negara Syariah dengan jatuh tempo 16 Desember 2026 naik 9,58 persen menjadi Rp2,97 triliun. Seri SPNS bertenor 1 tahun dengan jatuh tempo 1 Maret 2026 juga merangkak naik 1,58 persen menjadi Rp5,42 triliun.

Meski demikian, tren penurunan tetap terjadi pada tenor pendek yang jatuh tempo bulan depan. Seri dengan tenggat 10 Agustus 2026 tersebut turun sebesar 24,29 persen menjadi Rp1,59 triliun. Walaupun minat dari pihak investor melemah, pemerintah justru mengambil langkah agresif dalam penyerapan dana. Pemerintah mendongkrak jumlah penyerapan sebesar Rp600 miliar hingga menyentuh angka Rp9,45 triliun.

Langkah ini menaikkan rasio penyerapan secara drastis dari yang sebelumnya berkisar 34 persen kini melonjak hingga hampir 50 persen. Seri PBS030 yang jatuh tempo pada 15 Juli 2028 dijadikan sebagai andalan pembiayaan utama. Kebijakan penyerapan yang besar ini memaksa pemerintah untuk memberikan imbal hasil atau yield yang lebih tinggi kepada investor.

Pada lelang tersebut, tingkat yield merangkak naik di kisaran 28 hingga 39 bps. Kenaikan paling tajam dialami oleh seri PBS030 sebesar 38,8 bps menjadi 7,07 persen. Seri PBS040 menyusul dengan kenaikan 36 bps menjadi 7,05 persen, sedangkan seri PBS038 dan PBS034 masing-masing naik menjadi 7,21 persen dan 7,13 persen.

Lonjakan imbal hasil dalam waktu dua pekan ini mengindikasikan bahwa persepsi risiko domestik masih dinilai tinggi oleh pasar. Situasi tersebut terjadi meski tekanan terhadap mata uang rupiah sebenarnya mulai mereda.

Kondisi pasar ini dipengaruhi oleh sikap The Fed yang mempertahankan suku bunga AS di kisaran 3,5 persen sampai 3,75 persen. Kendati demikian, mayoritas pejabat The Fed mulai memproyeksikan adanya kenaikan suku bunga setidaknya sekali pada tahun ini. Faktor domestik juga ikut memicu sikap hati-hati dari para pemodal. Sejumlah lembaga pemeringkat internasional sempat memberikan sinyal peringatan dengan menurunkan outlook peringkat Indonesia menjadi negatif karena kekhawatiran pada posisi fiskal.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
nadia-fitria-ramadhani
Author