Macan Tutul Jawa dan Harimau Jawa Menjaga Ekosistem Hutan

Share

Hewan predator memegang peran vital sebagai penjamin keberlangsungan ekosistem dan benteng konservasi di dalam sistem penopang kehidupan bumi. Satwa pemuncak rantai makanan ini mengontrol populasi herbivora serta omnivora agar tidak terjadi ledakan populasi yang memicu kerusakan vegetasi hutan. Tingkat kelestarian satwa pemangsa menjadi indikator utama dari kesehatan dan daya dukung lingkungan di suatu wilayah.

Hutan alami di tanah Jawa sempat dikuasai oleh dua sosok predator besar, seperti dikutip dari Detik Travel. Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas) saat ini memikul tanggung jawab sendirian sebagai predator terbesar yang tersisa di Pulau Jawa. Eksistensi kucing besar ini terus dipantau berdasarkan data Java Wide Leopard Survey (JWLS) oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Kamera pengawas (camera trap) sempat merekam aktivitas sepasang induk dan anak macan tutul di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Fenomena serupa juga terekam di Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) yang memperlihatkan tiga ekor macan tutul hidup berdampingan secara damai di zona inti hutan.

Secara anatomi, Panthera pardus melas dianugerahi tubuh ramping namun padat, kaki pendek yang kekar, serta otot rahang kuat. Bulunya berwarna kuning kecokelatan dengan totol hitam menyerupai mawar (roseta), serta terdapat varian melanisme berbulu hitam legam yang disebut macan kumbang. Satwa penjaga hutan ini berada dalam status kritis dengan populasi yang kian mengkhawatirkan. Jumlahnya kini tercatat tersisa tidak lebih dari 700 ekor saja di seluruh alam liar Jawa dan Bali.

Kepunahan dan Secercah Harapan Harimau Jawa

Sebelum macan tutul berjuang sendirian, Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica) menjadi penguasa sekaligus arsitek utama keseimbangan hutan Jawa. Alih fungsi hutan secara brutal oleh manusia membuat satwa ikonik ini kehilangan ruang jelajah serta wilayah berburu. Lembaga konservasi internasional, International Union for Conservation of Nature (IUCN), akhirnya menyatakan Panthera tigris sondaica resmi punah sejak tahun 2008. Langkah ini menyusul hilangnya tanda-tanda fisik mereka di lapangan sejak dekade 1980-an.

Semangat membuktikan keberadaan satwa ini kembali muncul setelah jurnal ilmiah Oryx mempublikasikan hasil uji genetik sampel sehelai bulu di pedalaman Sukabumi. Hasil tes laboratorium tersebut menunjukkan kecocokan DNA yang kuat dengan spesimen Harimau Jawa. Kawasan hutan primer yang masih asri seperti Hutan Petungkriyono di Jawa Tengah digadang-gadang masih memiliki daya dukung lingkungan potensial bagi satwa ini. Ancaman kepunahan para predator utama di Pulau Jawa menjadi sinyal bahaya bagi kelangsungan hidup manusia karena rusaknya rantai makanan memicu efek domino bagi alam.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
bram-adhitya-santoso
Author