Maroko Siapkan Proyek Prestisius Piala Dunia 2030 di Tengah Kontroversi
Hasil imbang 1-1 melawan Brasil di laga pembuka Piala Dunia 2026 menjadi awal ambisi besar tim nasional Maroko. Suporter berharap timnas mereka kembali mencetak sejarah seperti saat menembus semifinal Piala Dunia 2022.
Dikutip dari Detikcom, di tengah turnamen yang mulai berlangsung sejak Juni 2026 ini, Maroko sudah menatap penyelenggaraan Piala Dunia 2030. Negara di Afrika Utara ini akan menjadi tuan rumah bersama Spanyol dan Portugal.
Hak tuan rumah diperoleh Maroko pada Desember 2024 setelah sebelumnya lima kali gagal dalam pencalonan. Ajang olahraga global ini menjadi salah satu proyek prestisius terpenting Raja Mohammed VI.
Piala Dunia 2030 menjadi bagian dari strategi modernisasi yang lebih luas untuk Maroko. Sektor industri, jasa, dan pariwisata kini dikembangkan di tengah penurunan sektor pertanian akibat perubahan iklim dan kekeringan.
"Piala Dunia menjadi katalis bagi perkembangan ekonomi Maroko," kata Steven Hoefner, Direktur kantor Yayasan Konrad Adenauer di Rabat.
Isabelle Werenfels dari lembaga penelitian SWP di Berlin juga menilai dampak turnamen ini melampaui olahraga. Pemerintah memanfaatkan ajang ini untuk mendorong agenda modernisasi dan melegitimasi investasi besar di dalam negeri.
"Piala Dunia memiliki banyak dimensi, pemerintah memanfaatkan turnamen ini untuk mendorong agenda modernisasi dan melegitimasi investasi besar di dalam negeri," ujarnya.
Pemerintah Maroko saat ini menggelontorkan dana besar untuk stadion, bandara, jalur kereta, dan jalan. Turnamen ini menjadi instrumen soft power untuk memperbaiki citra internasional, menarik investasi, dan memperkuat posisi di Afrika.
Maroko mengandalkan pengaruh politik dan budaya karena tidak memiliki cadangan minyak dan gas besar. Piala Dunia diharapkan menampilkan negara ini sebagai pusat ekonomi dan investasi modern.
Protes Prioritas Pembangunan
Investasi infrastruktur skala besar ini menuai kontroversi di dalam negeri. Tahun lalu, ribuan anak muda dari generasi Z turun ke jalan memprotes rencana proyek tersebut.
"Protes ini secara khusus ditujukan pada proyek infrastruktur berskala besar," kata Werenfels.
Kritikus menilai anggaran untuk stadion mewah seharusnya dialihkan ke sektor pendidikan dan kesehatan. Hoefner melihat protes tersebut sebagai persoalan prioritas pembangunan, di mana penerimaan publik bergantung pada manfaat nyata investasi.
Analisis Carnegie Endowment for International Peace menunjukkan Maroko membuat kemajuan signifikan dalam 25 tahun terakhir. Harapan hidup, pendapatan, pendidikan, dan investasi infrastruktur mengalami peningkatan.
Maroko kini menjadi eksportir otomotif terbesar di Afrika, namun masih menghadapi pengangguran muda, ketimpangan wilayah, dan kelemahan sistem pendidikan.
Tantangan Keberlanjutan Lingkungan
Masyarakat Maroko merasakan dampak yang beragam dari pembangunan ini. Werenfels menyebut banyak warga mengeluhkan biaya hidup yang naik, meski bangga dengan perubahan infrastruktur kota mereka.
"Banyak orang mengeluhkan biaya hidup yang meningkat, tetapi juga bangga dengan perubahan yang terlihat di kota-kota mereka," kata Werenfels.
Pembangunan fasilitas olahraga baru memicu perdebatan mengenai pemanfaatan jangka panjang. Stadion Hassan II yang direncanakan dibangun dekat Casablanca dengan kapasitas 115.000 penonton harus membuktikan keberlanjutannya.
"Untuk infrastruktur olahraga, masih ada pertanyaan soal pemanfaatan jangka panjang," kata Hoefner.
Masalah lingkungan terkait ketersediaan air juga menjadi kekhawatiran serius. Werenfels mempertanyakan keberlanjutan sektor pariwisata agar tidak mengorbankan sektor lain seperti pertanian.
"Maroko menghadapi masalah air yang serius," ujar Werenfels.
Banyak pihak berharap Piala Dunia 2030 menjadi titik balik yang mengangkat posisi Maroko di panggung global, serupa dengan dampak Olimpiade 1992 bagi Spanyol. Keberhasilan ini bergantung pada kemampuan negara menyeimbangkan modernisasi ekonomi, pembangunan sosial, dan ambisi proyek prestisius.