Marta Kostyuk Menang di Roland Garros Sambil Menangis Akibat Serangan Rudal
Petenis putri Ukraina Marta Kostyuk emosional setelah memenangi laga pembuka Grand Slam Roland Garros 2026 di Paris, Prancis, pada Minggu (24/5/2026), di tengah kabar serangan rudal Rusia yang jatuh di dekat kediaman orang tuanya.
Kostyuk yang menjadi unggulan ke-15 turnamen berhasil mengalahkan Oksana Selekhmeteva dengan skor 6-2 dan 6-3 dalam waktu 1 jam 17 menit di Lapangan Simonne-Mathieu. Namun, kemenangan tersebut dipenuhi rasa duka mendalam bagi atlet berusia 23 tahun tersebut.
Selepas pertandingan, Kostyuk membeberkan situasi mencekam yang menimpa keluarganya di Ukraina tepat pada pagi hari sebelum ia memasuki lapangan pertandingan.
"This morning a missile destroyed a building 100 meters from where my parents live" kata Kostyuk.
Kondisi psikologis yang terguncang membuat anak didik Sandra Zaniewska ini kesulitan untuk fokus sepenuhnya pada permainan tenis, karena mengkhawatirkan keselamatan keluarganya.
"This morning, a Russian missile destroyed a building 100 meters from where my parents live. I was in tears before stepping onto the court; I don't want to talk about myself today. All my thoughts and my heart are with the Ukrainian people," tegas Kostyuk.
Karier petenis yang kini menetap di Monako tersebut memang dipenuhi gejolak emosional, terutama sejak invasi Rusia dimulai pada Februari 2022. Kostyuk bahkan sempat mengungkapkan perjuangan mentalnya menghadapi titik terendah pada akhir tahun 2025.
"I kind of hit rock bottom," kenang Kostyuk dalam wawancara video dari rumahnya awal bulan ini, setelah sempat berpikir untuk pensiun jika performanya tidak kunjung membaik.
Kala itu, petenis peringkat 26 dunia tersebut mencurahkan kesulitan emosional yang ia rasakan kepada sang pelatih setelah kalah dalam laga eksibisi melawan Elina Svitolina di India.
"I told her that it feels like I’m literally shedding my skin. Like it’s coming off, and I have to rip it, and it’s very painful because you hit these very deep, emotional things that are difficult to process." ujar Kostyuk.
Proses pemulihan mental yang melelahkan selama empat tahun terakhir diakui Kostyuk sangat menyiksa karena lapisan demi lapisan masalah terus bermunculan.
"I remember sitting, and I was like, ‘I don’t know how long I can deal with this because I’ve been dealing with this shedding for the past four years, and it’s like layer by layer, more things come up.’" cetus Kostyuk.
Frustrasi sempat melanda dirinya karena merasa sudah mengerahkan segala upaya yang ada di dunia tenis namun tidak melihat adanya perubahan signifikan.
"I felt like I’m coming to the point where I’ve tried everything that there is." tambah Kostyuk.
Meskipun demikian, performa Kostyuk melesat di tahun 2026 dengan menyabet gelar di Rouen Open dan Madrid Open, yang membawa dirinya mengantongi 11 kemenangan beruntun sebelum tiba di Paris.
Awal tahun 2026 pun sebenarnya tidak berjalan mulus karena ia tersingkir di babak pertama Australian Open dari Elsa Jacquemot dalam laga 3 jam 31 menit yang diwarnai cedera ligamen pergelangan kaki kiri, disusul kekalahan awal di Miami Open.
Kostyuk sempat memprotes analisis data pelatihnya yang menyebut performanya layak berada di peringkat 10 besar dunia, padahal posisinya saat itu masih tertahan.
"I was like, ‘Yes, Sandra, it’s great — but where are the results? I’m not even close, I’m No. 28. The math is not mathing,’" tutur Kostyuk.
Setelah keberhasilan di Madrid, Sandra Zaniewska pun mengingatkan Kostyuk untuk terus bersabar menanti hasil kerja kerasnya.
"See, I told you," senyum Zaniewska saat itu kepada Kostyuk.
"Just wait." lanjut Zaniewska.
Ekspektasi tinggi dari sang ibu sejak Kostyuk menembus babak ketiga Australian Open 2018 di usia 15 tahun diakuinya memicu banyak kekacauan saat tumbuh dewasa.
"I was very energetic," kata petenis yang memiliki tinggi asli 5 kaki 6 inci tersebut.
"I did 100 things in a day. I was very emotional, very sensitive. I mean, still am, it’s just different. When you’re a child, you process things differently." jelas Kostyuk.
Kostyuk mengakui masa remajanya dihabiskan dengan perilaku yang sangat meledak-ledak di dalam maupun luar lapangan olahraga.
"I was crazy; I don’t know how else to phrase it." aku Kostyuk.
Hambatan terbesar dalam memenuhi potensi bakatnya selama ini diakuinya lebih banyak dipengaruhi oleh faktor mental ketimbang masalah fisik semata.
"the majority of the time mental," sebut Kostyuk.
Menurutnya, keraguan yang muncul di dalam pikiran petenis akan sulit ditumbangkan meski sang atlet memiliki kondisi fisik yang sangat prima.
"I consider myself a pretty athletic player, but it’s still very connected to the mental part. If there are some things that you doubt, or you’re not sure of, it’s not easy to beat that even with physicality." terang Kostyuk.
Tekanan psikologis itu semakin berlipat ganda sejak perang pecah, di mana Kostyuk harus terus bersuara di depan publik sembari tetap bertanding di turnamen profesional.
"Every day felt like an eternity because of all the news and everything that we had to do publicly and speak (about). The part with the tour, it was very complicated and very frustrating, so that would take up a lot of energy." kenang Kostyuk.
Kelemahan mental tersebut bahkan sempat memicu pikiran untuk mengakhiri hidup setelah ia menyelesaikan turnamen di Indian Wells dan Miami.
"suicidal thoughts" aku Kostyuk.
Pikiran buruk tersebut diakui Kostyuk sempat berada di luar kendalinya akibat tekanan perang yang tiada henti.
"really difficult for me to control." tukas Kostyuk.
Ibu dan saudara perempuan Kostyuk sempat mengungsi ke Monako, namun akhirnya memilih kembali ke Ukraina karena kesulitan beradaptasi dengan lingkungan, bahasa, dan budaya baru.
"A lot of people don’t understand that when you move to a different country, you need to find your place there, and it’s a very, very difficult journey to pretty much insert yourself into a new environment, new language, new people, new culture," papar Kostyuk.
Kini, dengan sebagian besar keluarga termasuk ayahnya yang berusia 74 tahun berada di Ukraina, Kostyuk harus menempuh perjalanan darat 10 hingga 17 jam dari Polandia untuk berkunjung.
"You live day by day," tutur Kostyuk saat menceritakan pengalamannya berlatih di Ukraina di tengah suara sirine udara dan ledakan pesawat tanpa awak.
"You don’t know what’s going to happen. It’s not stable, ever. Some days are fine, some days they’re worse. Sometimes something triggers me really bad." sambung Kostyuk.
Ketegangan juga berlanjut di atas lapangan kasti, di mana para petenis Ukraina menolak bersalaman dengan pemain Rusia dan Belarusia setelah pertandingan selesai.
"very emotional" aku Kostyuk mengenai perasaannya saat harus berhadapan dengan petenis asal Rusia di turnamen global.
"Especially" pungkas Kostyuk memotong kalimatnya.
Kostyuk dijadwalkan melanjutkan perjuangannya di babak kedua Roland Garros 2026 menghadapi pemenang pertandingan lainnya.