Mendikti Respons Dugaan Skandal Penelitian Palsu WNI di Denmark

Share

Dugaan skandal manipulasi identitas dan data riset yang melibatkan peserta asal Indonesia mencuat dalam ajang International Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Diseases (ISPPD) di Kopenhagen, Denmark, pada 17-21 Mei 2026.

Kasus ini menjadi perhatian publik setelah diungkap oleh epidemiolog Indonesia yang menempuh studi doktoral di Oxford University, Wa Ode Dwi Daningrat, dilansir dari Detikcom. Konferensi ilmiah tersebut dihadiri oleh lebih dari 1.300 peserta yang berasal dari 86 negara.

Kecurigaan bermula ketika Dwi dan rekannya mengamati gerak-gerik pemateri bernama Prihantini yang menggunakan afiliasi Indonesia namun terkesan menghindari interaksi dengan sesama delegasi tanah air. Prihantini juga kedapatan memperkenalkan diri dengan nama yang berbeda-beda saat mempresentasikan dua riset berbeda dalam waktu berdekatan.

Selain itu, kejanggalan ditemukan pada data penelitian berupa klaim pengumpulan data primer di wilayah dataran tinggi Andes, Peru, tanpa mencantumkan kolaborator lokal sama sekali.

"Gue sama teman gue aware karena dia pakai afiliasi Indonesia. Kalau kita baca paper tentang pneumonia di Indonesia orangnya itu-itu aja. Makanya kami scrutinize sampai ketahuan kayak gini karena dia afiliasinya Indonesia. Jadi naturally we are curious about that. Apalagi berasal dari satu negara sama-sama Indonesia di konferensi minimal saling sapa," ujar Wa Ode Dwi Daningrat, Epidemiolog Indonesia.

Dwi menambahkan bahwa penelitian di negara lain tanpa adanya kerja sama dengan peneliti setempat dinilai mustahil dalam prosedur riset internasional.

"Mereka tuh ngumpulin data di Andes. Ngumpulin data dan enggak ada sama sekali kolaborator lokal di negara itu impossible untuk melakukan penelitian kayak gitu di negara orang. Itu salah satu keanehan yang paling menonjol," kata Wa Ode Dwi Daningrat, Epidemiolog Indonesia.

Prihantini diketahui mendaftarkan lima judul penelitian bersama Rifaldy Fajar dari AI-Biomedicine Research Group dan IMCDS Biomed Research Foundation, serta Rini Winarti yang mencantumkan afiliasi Departemen Biologi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Menteri Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Brian Yuliarto memberikan pernyataan resmi bahwa para oknum yang terlibat tidak terdaftar sebagai pengajar atau peneliti aktif di perguruan tinggi Indonesia.

"Berdasarkan informasi awal yang kami peroleh, pihak-pihak yang disebut dalam kasus ini tidak terindikasi sebagai dosen atau peneliti aktif di perguruan tinggi Indonesia. Meski demikian, persoalan ini tetap menjadi perhatian karena dapat memengaruhi persepsi terhadap ekosistem riset nasional secara lebih luas," ujar Brian Yuliarto, Menteri Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi.

Pemerintah memastikan bahwa pengawasan terhadap integritas akademik tetap berjalan sesuai dengan regulasi yang berlaku melalui lembaga terkait.

"Indonesia memiliki mekanisme evaluasi integritas riset melalui perguruan tinggi, komite etik, LPPM, sistem penjaminan mutu akademik, serta mekanisme pemantauan dan evaluasi dari Kemdiktisaintek maupun BRIN sesuai kewenangannya," jelas Brian Yuliarto, Menteri Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi.

Saat ini, Wakil Rektor Bidang Akademik UNY Prof Nur Hidayanto menyatakan pihak kampus sedang menelusuri nama alumni yang tercatat dalam berkas riset tersebut, sementara terduga Rifaldy Fajar sempat mengunggah rencana klarifikasi sebelum akhirnya menutup akun media sosialnya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
danto-wijaya-kusuma
Author