Mengenal Hiperemesis Gravidarum Penyebab Mual Ekstrem saat Hamil

Share

Mayoritas perempuan mengalami mual dan muntah pada awal masa kehamilan, khususnya selama trimester pertama. Fenomena yang biasa disebut morning sickness ini umumnya dipicu oleh pergeseran hormon serta metabolisme tubuh. Seperti dilansir dari HaiBunda, kondisi mual biasa tersebut umumnya akan mereda setelah melewati tiga bulan pertama kehamilan.

Namun, terdapat sebagian kecil ibu hamil yang mengalami kondisi jauh lebih parah. Sekitar 1 hingga 3 persen ibu hamil di seluruh dunia mengalami gangguan mual yang sangat ekstrem. Kondisi ini membuat mereka tidak mampu mengonsumsi makanan atau minuman secara normal, bahkan menghambat aktivitas harian.

Gangguan medis yang dikenal sebagai hiperemesis gravidarum ini berisiko bertahan sepanjang masa kehamilan. Jika dibiarkan, kondisi tersebut dapat membahayakan keselamatan ibu sekaligus janin yang dikandungnya.

Kalangan ilmuwan awalnya menduga bahwa hormon human chorionic gonadotropin atau hCG menjadi penyebab utama kelainan ini. Kini, penelitian berhasil mengungkap bahwa pemicu utamanya adalah tingginya kadar hormon GDF15. Hormon GDF15 sendiri memiliki peran penting dalam mengontrol metabolisme energi, nafsu makan, serta reaksi tubuh terhadap stres. Tingkat sensitivitas seorang perempuan terhadap hormon ini dipengaruhi oleh produksinya sebelum masa kehamilan.

Perempuan yang memiliki kadar GDF15 rendah sebelum hamil cenderung lebih sensitif saat plasenta memproduksi hormon ini dalam jumlah besar. Kondisi tersebut menjadi faktor risiko utama munculnya hiperemesis gravidarum. Pemeriksaan melalui tes darah sebenarnya sudah mampu mendeteksi kadar GDF15 di dalam tubuh. Kendati demikian, metode pengecekan hormon ini belum diaplikasikan secara resmi untuk mendiagnosis pasien.

Selain faktor hormon GDF15, terdapat beberapa aspek lain yang dapat meningkatkan risiko seorang ibu terkena hiperemesis gravidarum:

  • Memiliki riwayat gangguan serupa pada kehamilan terdahulu
  • Mengandung bayi kembar dua, tiga, atau lebih
  • Menjalani kehamilan untuk pertama kalinya
  • Terdapat riwayat kebiasaan serupa di dalam keluarga
  • Mempunyai riwayat penyakit migrain atau sering mabuk perjalanan

Gejala Klinis yang Sering Muncul

Terdapat sejumlah indikasi klinis yang sering dialami oleh pasien yang menderita hiperemesis gravidarum selama masa kehamilan. Gejala-gejala tersebut meliputi:

  • Munculnya rasa mual yang terjadi hampir sepanjang waktu
  • Kehilangan nafsu makan secara drastis
  • Frekuensi muntah yang sangat sering
  • Tubuh mengalami dehidrasi
  • Merasa pusing atau sensasi melayang pada kepala
  • Mengalami penurunan berat badan hingga lebih dari 5 persen

"Hiperemesis gravidarum biasanya dimulai pada trimester pertama kehamilan. Gejalanya bisa datang dan pergi. Jadi mungkin ada saat-saat ibu hamil membutuhkan perawatan di rumah sakit untuk mengatasi gejala, dan ada saat-saat lain ketika ia merasa lebih baik," kata pakar kesehatan Wendy A. Satmary, MD.

Metode Diagnosis dan Penanganan Medis

Ibu hamil yang menunjukkan indikasi hiperemesis gravidarum wajib menjalani rangkaian pemeriksaan medis terlebih dahulu. Pada tahap awal, dokter akan memeriksa indikasi fisik seperti tekanan darah rendah atau denyut nadi cepat.

Pemeriksaan sampel darah dan urine juga dilakukan guna mendeteksi tingkat dehidrasi pasien. Dokter dapat menjalankan tes penunjang untuk memastikan mual muntah bukan disebabkan oleh gangguan pencernaan. Prosedur USG turut disarankan demi melihat potensi kehamilan kembar atau mendeteksi gangguan lain.

Langkah penanganan selanjutnya akan disesuaikan secara khusus dengan tingkat keparahan gejala yang muncul. "Terkadang, pengobatan dini untuk morning sickness dapat menurunkan risiko terkena hiperemesis gravidarum. Dokter mungkin merekomendasikan metode pencegahan mual alami, seperti pemberian vitamin B6, konsumsi jahe, makan lebih sedikit tapi sering, minum banyak cairan untuk tetap terhidrasi," ujar Satmary.

"Tapi tidak seperti morning sickness pada umumnya hiperemesis gravidarum membutuhkan perawatan medis. Jika tidak dapat menahan cairan atau makanan karena mual atau muntah terus-menerus, maka pasien perlu mendapatkannya melalui infus."

Dokter juga dapat meresepkan sejumlah obat-obatan khusus untuk meredakan mual. Jenis obat penekan mual ini dapat diberikan melalui jalur oral, suntikan, maupun menggunakan sediaan topikal.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
gilang-permana-putra
Author