Mengenal Rhabdomyolysis, Risiko Ginjal Kolaps yang Mengintai Pelari Marathon

Share

Olahraga lari kini semakin digemari masyarakat, mulai dari ajang fun run 5K, maraton, hingga ultra-marathon lintas alam. Kegiatan fisik ini memang memberikan dampak positif yang besar bagi kesehatan jantung serta stamina tubuh.

Namun, di balik euforia mencapai garis finish, terdapat ancaman kondisi medis serius jika seseorang terlalu memaksakan kapasitas tubuhnya. Kondisi medis berbahaya yang patut diwaspadai tersebut adalah rhabdomyolysis.

Seperti dilansir dari Detik Health yang mengutip Cleveland Clinic, rhabdomyolisis merupakan masalah kesehatan serius akibat rusaknya jaringan otot rangka dalam waktu cepat. Kematian sel otot ini memicu kebocoran zat di dalam sel, seperti protein mioglobin dan elektrolit, ke dalam aliran darah sehingga berpotensi merusak organ ginjal.

Masalah ini umumnya dipicu oleh aktivitas fisik yang sangat ekstrem, trauma, atau efek pengobatan tertentu. Oleh karena itu, olahraga dengan intensitas berat seperti marathon memiliki risiko tinggi memicu kondisi ini.

Gejala rhabdomyolisis sangat bervariasi dari tingkat ringan hingga berat, serta biasanya baru terdeteksi satu sampai tiga hari setelah otot mengalami cedera. Meskipun demikian, sebagian orang terkadang tidak merasakan nyeri otot sama sekali.

Beberapa tanda lain yang kerap muncul meliputi dehidrasi, penurunan kesadaran, mual, serta berkurangnya frekuensi buang air kecil. Selain itu, kelelahan akut yang terus dipaksakan juga menjadi indikasi kuat dari kondisi ini.

"Dia kelelahan (akut, red). Dipaksakan kok itu, dia udah merasa lelah, sudah itu dipaksakan sama dia," kata dr Tunggul saat dihubungi detikcom, Sabtu (20/6/2026).

Dokter spesialis penyakit dalam dr Tunggul Situmorang, SpPD-KGH menjelaskan bahwa keterlambatan penanganan bisa memicu Acute Kidney Injury (AKI) atau gangguan ginjal akut mendadak. Perubahan drastis ini dapat diidentifikasi secara langsung melalui kondisi urine pasien.

"Acute Kidney Injury artinya mendadak. Bisa terlihat kencingnya misalnya menjadi, proteinnya banyak (tercampur) kemudian kegelapan warna kencingnya," katanya.

"Karena memang mioglobin itu, pecahan protein dari otot. Nah kalau ini cepat ditangani, sebenarnya reversible itu," sambungnya.

Pemicu Utama dan Kelompok Rentan

Kurangnya persiapan fisik yang matang dan absennya pemanasan yang memadai sebelum berolahraga menjadi faktor pemicu utama rhabdomyolysis. Proses pemanasan yang tidak dilakukan secara bertahap sangat berbahaya bagi tubuh.

"Salah satu penyebabnya sebenarnya adalah kalau pemanasannya itu tidak gradual ya," kata dr Tunggul.

Pelari pemula menjadi kelompok yang paling rawan terserang rhabdomyolysis karena sering kali langsung memacu tubuhnya tanpa adaptasi. Meski demikian, atlet berpengalaman pun tetap memiliki risiko yang sama jika mengabaikan persiapan.

"Atau mungkin dia merasa bahwa sudah biasa, dia langsung tancap begitu. Jadi bisa dihindari dengan pemanasan yang gradual sebenarnya pada awalnya. Tapi memang itu (rhabdo) terutama pada pemula," katanya.

"Kemarin itu ada itu, sudah pelari marathon yang sudah berpengalaman sampai 42K, tetapi tetap saja bisa terjadi. Tetapi memang dasarnya ya itu, sangat eksesif, sangat berat, mendadak," katanya.

Selain lari marathon, aktivitas high-intensity interval training seperti hyrox juga menyimpan risiko serupa jika otot dipaksa bekerja masif tanpa mendengarkan sinyal tubuh.

"Menurut saya, itu (hyrox) termasuk risk juga itu. Kan itu berarti penggunaan otot yang masif juga," katanya.

Peluang Kesembuhan Pasien

Walaupun berdampak fatal pada fungsi ginjal, rhabdomyolysis dapat disembuhkan total atau bersifat reversible asalkan mendapatkan penanganan medis secara cepat dan tepat.

"Misalnya AKI grade 1 dan 2, itu pasti reversible (bisa disembuhkan, red) tanpa mungkin dialisis. Tapi kalau sudah grade 3, di AKI itu, itu sudah harus dialisis," kata dr Tunggul.

"Makin cepat dia diambil tindakan sesuai dengan indikasi, maka tentu dia akan reversible," sambungnya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
hendra-kurniawan-saputra
Author