Mengenal Stadium Kanker Serviks dan Metode Deteksi Dininya

Share

Kanker serviks merupakan keganasan yang muncul pada permukaan leher rahim. Infeksi Human Papillomavirus atau HPV menjadi pemicu utama pada hampir seluruh kasus penyakit ini, yang umumnya menular melalui aktivitas seksual. Jenis kanker ini sering kali berkembang tanpa memicu gejala awal yang jelas.

Penyakit ini biasanya baru terdeteksi setelah memasuki fase lanjutan atau ketika sel kanker mulai menyebar ke area tubuh lain. Dikutip dari Detik Health yang melansir data Cancer Research UK, perkembangan kanker leher rahim ini terbagi ke dalam empat tingkatan stadium utama.

Pada stadium 1, sel kanker masih terisolasi di dalam leher rahim dan belum menyebar ke organ lain. Stadium ini dibagi menjadi Stadium 1A dengan ukuran tumor sangat kecil sebesar 3 hingga 5 mm, serta Stadium 1B yang ukurannya melebihi 5 mm namun tetap berada di jaringan serviks.

Memasuki stadium 2, kanker mulai menginvasi jaringan di luar leher rahim, tetapi belum mencapai dinding panggul atau bagian bawah vagina. Fase 2A menandakan penyebaran ke vagina atas, sedangkan 2B berarti kanker sudah menjalar ke jaringan sekitar serviks. Pada stadium 3, penyebaran sel kanker sudah semakin meluas. Kondisi ini mencakup invasi ke sepertiga bagian bawah vagina, dinding panggul, saluran ureter, hingga kelenjar getah bening di area pinggul maupun perut.

Stadium 3 ini dikelompokkan lagi menjadi tiga fase spesifik. Stadium 3A merujuk pada penyebaran di sepertiga bawah vagina tanpa mengenai dinding panggul, 3B ditandai dengan sumbatan ureter atau invasi dinding panggul, dan 3C menunjukkan kanker berada di area panggul tanpa penyebaran jauh. Sementara itu, stadium 4 menandakan kanker telah menyebar ke luar panggul atau menginfeksi organ dalam lainnya. Stadium 4A berarti kanker merambah ke organ terdekat seperti kandung kemih atau rektum, dan Stadium 4B menunjukkan metastasis ke organ jauh seperti paru-paru.

Gejala pada Fase Stadium Lanjut

Terdapat sejumlah indikasi klinis yang muncul saat kondisi kanker serviks ini telah memasuki fase lanjut atau stadium 4. Berdasarkan data Cleveland Clinic, salah satu gejalanya adalah keputihan yang tidak normal, encer, bercampur darah, serta memicu bau menyengat. Ketua Umum Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI), Prof Dr dr Yudi Mulyana Hidayat, SpOG, Subsp.

Onk, memberikan penjelasan mengenai kondisi keputihan abnormal tersebut. "Nah sekarang, keputihan itu ada yang bening. Tapi kalau keputihannya itu sudah berwarna, berwarna putih, berwarna kuning, apalagi sampai berbau.

Putih, kuning, ada mikroorganisme atau kuman lain. Kita obati sesuai dengan penyebabnya, kan?" kata Prof Yudi.

"Nah yang parah itu kalau sudah berbau, merah, itu berarti apa? Udah kanker," ujar Prof Yudi.

Gejala lainnya meliputi rasa nyeri serta perdarahan aktif yang terjadi saat melakukan hubungan intim dengan pasangan. Rasa sakit ini menjadi indikasi bahwa sel kanker telah menginvasi jaringan di luar leher rahim. Kanker serviks stadium lanjut juga memicu komplikasi berat, termasuk kebocoran saluran kemih atau keluarnya feses melalui vagina.

Kondisi ini terjadi karena kerusakan pada dinding pemisah organ reproduksi dengan saluran pencernaan atau kemih. "Tambah lagi kalau (kanker) ke depan, (kena) saluran kencing, bocor, ngompol terus. Itu sudah stadium 4A atau 4B," kata Prof Yudi.

Metode Diagnosis dan Skrining

Untuk mendeteksi keberadaan kanker leher rahim, dunia medis menerapkan tiga metode pemeriksaan utama. Metode pertama adalah Pap Smear yang dilakukan dengan mengambil sampel sel leher rahim untuk melihat perubahan sel sejak dini.

Berdasarkan rekomendasi National Cancer Institute, prosedur Pap Smear ini disarankan bagi wanita mulai usia 21 tahun dengan intensitas pemeriksaan berkala setiap tiga tahun sekali. Metode kedua adalah Inspeksi Visual dengan Asam Asetat atau IVA melalui pengolesan larutan asam asetat encer pada serviks. Jika muncul bercak putih dalam waktu satu menit, hal itu mengindikasikan adanya perubahan sel yang memerlukan pemeriksaan lanjutan.

Skrining menggunakan metode IVA ini direkomendasikan bagi wanita berusia mulai 35 tahun ke atas. Pemeriksaan ini dapat diulang secara rutin dengan jangka waktu setiap 3 hingga 5 tahun sekali. Metode ketiga adalah tes HPV DNA yang berfungsi mendeteksi keberadaan strain virus HPV dengan risiko tinggi. Merujuk pada panduan WHO, pengujian sampel sel serviks ini dapat dimulai pada usia 30 tahun dengan rutinitas skrining setiap 5 sampai 10 tahun.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
daffa-raihan-maulana
Author