Mengenal Tradisi Kopitiam dan Daya Tariknya yang Kembali Populer
Tren nongkrong di kedai kopi tradisional atau kopitiam kembali meningkat di Indonesia. Banyak gerai baru bermunculan, terutama di Jakarta, dengan menawarkan nuansa retro yang santai. Fenomena ini dilansir dari Detik Food.
Istilah kopitiam mengombinasikan bahasa Melayu dan dialek Hokkian. Kata 'kopi' merujuk pada minuman kopi, sedangkan 'tiam' berarti toko. Gabungan kedua istilah tersebut mendefinisikan kedai kopi tradisional khas kawasan Asia Tenggara.
Sejarah keberadaan kedai ini bermula dari gelombang migrasi warga asal China ke Semenanjung Melaya pada abad ke-19. Para imigran membuka usaha kedai kopi sederhana sebagai tempat berkumpul para pekerja untuk bersantai dan bertukar kabar.
Tradisi tersebut kemudian mengakar kuat di Singapura, Malaysia, dan Indonesia. Di wilayah Hindia Belanda, kedai kopi mulai menjamur sejak awal abad ke-20, seperti Warung Kopi Nikmat di Singkawang yang telah beroperasi sejak tahun 1930-an.
Singapura juga mencatat kehadiran Killiney Kopitiam yang berdiri sejak 1919 sebagai tempat makan terjangkau bagi pekerja migran. Sementara di Malaysia, imigran Hainan memelopori pembukaan kedai seperti Kopitiam Yut Kee pada tahun 1928.
Proses penyeduhan kopi di kedai tradisional tetap mempertahankan cara manual. Biji kopi diseduh lalu disaring memakai kain penyaring, kemudian disajikan dalam cangkir keramik khusus. Variasinya beragam, mulai dari kopi hitam hingga racikan campuran mentega atau susu kental manis.
Menu minuman populer lainnya adalah teh tarik yang dikocok hingga berbuih. Untuk hidangan pendamping, kopitiam menyajikan perpaduan kuliner Melayu dan China seperti kaya toast, telur setengah matang, nasi lemak, laksa, hingga aneka mi.
Konsep kedai ini terus bertransformasi menyesuaikan selera pasar modern. Beberapa pengelola menghadirkan inovasi menu seperti toast saus mala atau topping bebek asap, sementara gerai lain di kawasan Blok M mempertahankan nuansa klasik heritage yang autentik.