Mengenali Gejala Kanker Prostat Sejak Dini dan Cara Mencegahnya
Kanker prostat merupakan pertumbuhan sel abnormal yang bermula pada kelenjar prostat. Organ reproduksi pria ini berfungsi memproduksi cairan yang menjadi bagian dari air mani.
Kanker prostat yang terdeteksi pada stadium awal umumnya memiliki peluang kesembuhan yang jauh lebih besar. Oleh karena itu, penting untuk memahami sejumlah gejala awal serta langkah pencegahannya, seperti dilansir dari Detik Health.
Penyakit ini kerap kali tidak memunculkan tanda-tanda spesifik pada fase awal. Meski demikian, dikutip dari Better Health Channel, beberapa gejala yang dapat muncul meliputi meningkatnya frekuensi buang air kecil terutama di malam hari, serta rasa nyeri atau sensasi terbakar saat berkemih.
Penderita juga mungkin mengalami kesulitan untuk memulai atau menghentikan aliran urine, merasa kandung kemih belum kosong sepenuhnya, hingga urine yang menetes. Tanda lainnya adalah keberadaan darah dalam urine, nyeri ketika ejakulasi, sakit di punggung bawah, paha atas, kaki, nyeri tulang, serta penurunan berat badan tanpa sebab jelas.
Terkait gejala buang air kecil di malam hari, ahli onkologi radiasi di Ceko, Dr Jiri Kubes, memberikan penjelasannya.
"Bangun tidur untuk ke toilet di malam hari adalah hal yang sangat umum dan cenderung lebih sering terjadi seiring umur bertambah. Jadi itu bukanlah suatu yang harus terlalu diperhatikan," kata Dr Jiri Kubes dikutip dari Mirror.
Namun, dirinya mengingatkan agar masyarakat tetap waspada jika terjadi perubahan pola yang signifikan.
"But, jika ada perubahan seperti lebih sering untuk mengosongkan kandung kemih, maka sebaiknya memeriksakan diri," tutur Dr Jiri Kubes.
Berbagai gejala tersebut sebenarnya bisa juga dipicu oleh gangguan medis lain yang tingkat keparahannya berada di bawah kanker prostat. Sebagian besar kasus pembesaran prostat diketahui bersifat jinak atau bukan kanker, sehingga pemeriksaan medis tetap diperlukan untuk memastikan diagnosis.
Faktor Risiko Kanker Prostat
Berdasarkan data dari Mayo Clinic, terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena kanker prostat. Faktor pertama adalah usia, di mana penyakit ini paling sering ditemukan pada pria yang telah berusia di atas 50 tahun.
Faktor berikutnya meliputi ras, riwayat penyakit serupa dalam keluarga, serta perubahan genetik. Mutasi DNA tertentu seperti pada gen BRCA1 dan BRCA2 yang diturunkan dari orang tua dapat meningkatkan risiko, yang juga berkaitan dengan kanker payudara dan ovarium. Selain itu, obesitas turut memicu kanker prostat berkembang lebih cepat dan berpotensi muncul kembali pascatertentu.
Cara Mencegah Kanker Prostat
Terdapat beberapa langkah yang bisa diterapkan untuk menekan risiko terkena penyakit ini, salah satunya melalui pengaturan pola makan.
Spesialis urologi, dr Adistra Imam Satjakoesoemah, SpU, FICS, menekankan pentingnya mengonsumsi makanan yang kaya akan kandungan vitamin A, vitamin D, dan vitamin E guna membantu meredakan peradangan di dalam tubuh.
Gaya hidup sehat harus dimulai dengan membatasi asupan makanan atau minuman yang memicu risiko. dr Adistra Imam Satjakoesoemah, SpU, FICS, menyarankan pengurangan konsumsi jenis makanan tertentu demi meminimalkan potensi masalah pada organ prostat.
"Ada makanan-makanan yang sifatnya prokarsinogenik, overall sebenarnya bukan buat prostat doang. Red meat (daging merah) kemudian dietary food, susu dan produk turunannya. Itu ada chance, ada risiko. Sekali lagi ini bukan menyebabkan ya, tapi ada risiko," kata dr Adistra Imam Satjakoesoemah, SpU, FICS.
Langkah pencegahan kedua adalah dengan menghindari gaya hidup yang kurang aktif atau mager. Kurangnya aktivitas fisik menjadi salah satu pemicu utama pria lanjut usia mengalami Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) atau pembesaran prostat jinak.
"Sedentary lifestyle, santai-sandai, kaum rebahan itu ada chance yang signifikan (terkena BPH). Jauhi rebahan, hidup aktif. Sedentary lifestyle, rebahan ya ada risk buat jadi pembesaran prostat, dari penelitian ya risk-nya. Tapi nggak semuanya begitu sekali lagi ya," ujar dr Adistra Imam Satjakoesoemah, SpU, FICS.
Kebiasaan malas bergerak ini dinilai dapat memperburuk kondisi kesehatan secara umum dan memicu berbagai penyakit kronis lainnya.
"Kaum-kaum mager baiknya itu (perbanyak gerak). Semuanya sih bisa risk-nya meningkat. Sakit jantung dan lain-lain. Jadi olahraga teratur, aktivitas fisik, tadi juga diabetes juga," tutur dr Adistra Imam Satjakoesoemah, SpU, FICS.