Menteri Keuangan Targetkan Rupiah Menguat ke Level Rp 15.000 Per Dolar AS
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pemerintah akan mendorong nilai tukar rupiah untuk kembali menguat hingga mencapai level Rp 15.000 per dolar Amerika Serikat (AS).
Langkah penargetan tersebut disampaikan di Yogyakarta pada Jumat (22/5/2026) saat mata uang rupiah masih berada di posisi tinggi yaitu Rp 17.698 per dolar AS, seperti dilansir dari Detik Finance.
"Kita akan dorong rupiah ke arah Rp 15.000. Kalau kata Pak Presiden, 'Purbaya senyum, ekonomi aman.' Ini senyum terus nih," ujar Purbaya dalam acara Jogja Financial Festival 2026, Jumat (22/5/2026).
Merespons target dari pemerintah tersebut, Direktur Eksekutif CELIOS Bhima Yudhistira memberikan pandangan yang berbeda mengenai peluang penguatan mata uang Garuda.
Menurut analisis Bhima, pergerakan nilai tukar rupiah yang telah terdepresiasi sejak tahun 2008 menunjukkan peluang yang sangat kecil untuk dapat menguat kembali secara signifikan ke level beberapa tahun sebelumnya.
Tekanan yang terjadi saat ini diperkirakan justru berpotensi membuat nilai tukar rupiah menembus angka di atas Rp 18.000 per dolar AS.
"Jadi hampir tidak mungkin ketika rupiah sudah tembus level psikologis 17.000 and 18.000 maka dia akan kembali lagi ke level 15.000," kata Bhima kepada detikcom, Jumat (29/5/2026).
Kondisi pelemahan mata uang ini dinilai dipicu oleh sentimen negatif dari investor asing terhadap kebijakan domestik, termasuk program ekspor satu pintu melalui Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).
Kebijakan lain yang disorot adalah kewajiban penempatan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) sebesar 100 persen pada jaringan perbankan BUMN yang dinilai belum menyelesaikan persoalan devisa.
"Bahkan kebijakan-kebijakan seperti DHE ditahan itu juga akan memicu peralihan, dan ini sudah terlihat banyak yang sedang berjaga-gaga dengan menjual rupiah dan masuk ke deposito valas, masuk ke deposito dolar Amerika Serikat," terang Bhima.
Peralihan aset tersebut berdampak langsung pada lonjakan permintaan terhadap mata uang dolar AS dari sektor rumah tangga maupun para pelaku usaha di dalam negeri.
"Artinya permintaan dolar baik dari sisi pelaku usaha maupun rumah tangga itu meningkat. Nah ini jadi tidak bisa diselesaikan dengan DHE wajib masuk kemudian badan ekspor nasional atau DSI. Masalahnya bukan di situ," ujarnya lagi.
Faktor tekanan fiskal yang sedang berlangsung memicu penilaian bahwa target penguatan ke angka Rp 15.000 menjadi hal yang hampir mustahil diwujudkan pemerintah dalam waktu dekat.
"Jadi tidak mungkin target berubah rupiah bisa kembali lagi ke 15.000 terhadap dolar gitu ya atau dolarnya kembali ke Rp 15.000," tandasnya.
Penilaian serupa mengenai ketidakmungkinan pencapaian target nilai tukar tersebut juga dikemukakan oleh analis komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi.
Ibrahim menilai proyeksi tersebut sulit terwujud apabila melihat dinamika geopolitik global serta berbagai permasalahan dalam struktur ekonomi domestik saat ini.
"Ya itu angan-angan. Setiap wawancara kan selalu bilang 'apakah bisa ke Rp 15.000?', 'Oh pasti bisa ke Rp 15.000'. Itu enteng untuk diucapkan," ujar Ibrahim.
Proyeksi pergerakan pasar menunjukkan rupiah masih akan menghadapi tekanan besar hingga berpeluang menyentuh level Rp 18.000 per dolar AS pada pekan depan.
Masalah struktural seperti defisit neraca transaksi berjalan yang dipicu oleh ketergantungan terhadap impor energi berupa minyak mentah menjadi beban fundamental bagi ekonomi Indonesia.
"Di APBN itu (harga minyak) US$ 70 per barrel, rupiahnya di 16.500. Tetapi sekarang rupiahnya sudah di angka anggap saja Rp 17.900, kemudian minyak mentahnya bukan di US$ 70 tapi di atas US$ 90. Pemerintah harus mengeluarkan dolar yang cukup besar. Sedangkan impor minyak mentah ini 85% itu larinya subsidi. Nah sehingga apa? Ini beban, tekanan bagi pemerintah untuk menutupi defisit ini," tutur Ibrahim.
Kebutuhan terhadap dolar AS juga mengalami lonjakan akibat adanya kewajiban dari perusahaan-perusahaan asing di Indonesia untuk membagikan dividen kepada para pemegang saham mereka.
Sentimen pasar modal ini kemudian diperparah oleh pergerakan di sektor logam mulia, di mana fluktuasi harga emas dunia mendorong perpindahan aset investasi.
"Dana yang tadinya mereka investasikan di logam mulia, di emas digital, mereka pindahkan. Kenapa? Momentum untuk mendapatkan keuntungan secara jangka pendek itu ada di indeks dolar, bukan di logam mulia," ujarnya.
Ketidakpastian regulasi terkait rencana ekspor satu pintu melalui DSI menjadi faktor tambahan yang membuat investor asing meragukan kepastian hukum dan memilih memindahkan modal ke negara lain.
Pada perdagangan pagi ini, nilai mata uang Amerika Serikat dilaporkan kembali menguat sebesar 0,04 persen yang memposisikan mata uang rupiah berada pada level Rp 17.853.