Menteri LH Pantau Pembangunan Sekat Kanal di Pulau Mendol Riau

Share

Langkah mitigasi kebakaran hutan dan lahan terus diperkuat di wilayah pesisir. Dilansir dari Detikcom, Menteri Lingkungan Hidup Muhammad Jumhur Hidayat melaksanakan kunjungan kerja ke Pulau Mendol, Kecamatan Kuala Kampar, Kabupaten Pelalawan, Riau.

Kunjungan ini bertujuan untuk memantau langsung pembuatan sekat kanal yang diproyeksikan menjadi benteng utama dalam mencegah kebakaran hutan dan lahan.

Menteri Jumhur tiba di lokasi sekitar pukul 10.45 WIB dengan didampingi oleh Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan serta Bupati Pelalawan Zukri. Kedatangan rombongan pejabat ini disambut oleh Camat Kuala Kampar Tengku Radi Guspandiar.

Sebelum menuju lokasi peninjauan utama, Menteri Lingkungan Hidup bersama rombongan melakukan penanaman pohon aren di area lapangan Kuala Kampar. Aksi penanaman ini menjadi simbol nyata dari pelaksanaan gerakan restorasi lingkungan.

Keterbatasan akses infrastruktur di Pulau Mendol membuat rombongan harus menyesuaikan moda transportasi. Dikarenakan tidak adanya kendaraan roda empat di pulau tersebut, Menteri Jumhur dan rombongan terpaksa berboncengan menggunakan sepeda motor milik warga setempat.

Perjalanan darat menggunakan sepeda motor ditempuh sejauh 4,2 kilometer membelah jalanan pulau. Setelah sampai di titik pemberhentian terakhir, rombongan masih harus berjalan kaki sejauh 200 meter untuk mencapai lokasi proyek sekat kanal di Desa Sungai Perak.

Menteri Jumhur memaparkan bahwa keberadaan infrastruktur sekat kanal memegang peranan yang sangat krusial, terutama pada wilayah lahan gambut seperti di Kuala Kampar. Fasilitas ini berfungsi menjaga stabilitas tinggi muka air tanah agar gambut tetap basah pada musim kemarau.

"Kita di berbagai wilayah di tanah air yang memiliki lahan gambut adalah fakta. Lahan gambut itu apabila dia tidak digenangi secara terus menerus pada saat yang sama terus disinari oleh matahari, maka dia berpotensi menjadi panas dan bisa terbakar itu fakta," tutur Jumhur di lokasi.

"Jadi bencana lahan terbakar itu pada dasarnya bencana alami. Namun itu bisa disiasati, terlebih lagi kalau kita bisa memastikan ada air yang selalu menggenangi," jelasnya.

Secara teknis, sekat kanal yang dibangun di lokasi ini memiliki spesifikasi lebar sekitar 3 meter. Konstruksi sekat di beberapa titik sengaja dibuat bertingkat mengikuti elevasi lahan demi memastikan air meresap secara optimal ke dalam kubah gambut.

"Kedatangan saya ke sini adalah untuk menunjukkan bahwa gerakan bersama untuk menggenangi air seperti yang kita lakukan di sini adalah membangun sekat sekat kanal, membuat semacam bendungan dengan membatasi debit air sehingga airnya bisa melimpah ke sekitar sini itu adalah bagian dari upaya untuk mitigasi agar bencana kebakaran lahan bisa dikurangi," tutur Jumhur.

Infrastruktur pengendali air di Desa Sungai Perak ini menjadi bagian dari program restorasi gambut berkelanjutan di Provinsi Riau. Program tersebut ditargetkan untuk menjaga wilayah Riau agar terbebas dari ancaman bencana kabut asap.

"Mudah-mudahan usaha ditambah dengan doa yang kuat tentunya, mudah-mudahan Tuhan tidak mengizinkan api atau panas itu membakar lahan kita. Sehingga kita bisa bekerja seperti biasa, tidak menimbulkan emisi gas rumah kaca, tidak mengganggu siapapun termasuk mengganggu masyarakat," pungkasnya.

Agenda kunjungan kerja diakhiri dengan interaksi langsung bersama masyarakat sekitar. Menteri Jumhur beserta rombongan menggelar forum dialog dengan warga untuk menyerap aspirasi dan mengidentifikasi berbagai kendala lingkungan di kawasan Pulau Mendol.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
hendra-kurniawan-saputra
Author