Merek Otomotif China Dominasi Pasar Mobil Listrik di Indonesia
Pasar kendaraan listrik berbasis baterai atau battery electric vehicles (BEV) di Indonesia mengalami lonjakan yang sangat signifikan. Berdasarkan data wholesales Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), distribusi nasional khusus segmen ini mencapai 69.739 unit sepanjang periode Januari hingga Juni 2026.
Jumlah tersebut mencatatkan kenaikan sebesar 80,8 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Dilansir dari Detik Oto, mayoritas produk BEV yang terserap pasar berasal dari pabrikan asal China yang agresif dalam merilis produk dengan harga kompetitif.
Sebaliknya, performa penjualan mobil listrik dari pabrikan otomotif raksasa asal Jepang justru tertinggal jauh. Akumulasi total penjualan dari gabungan merek besar asal Negeri Sakura, yaitu Toyota, Honda, Nissan, dan Suzuki, hanya mencatatkan angka 119 unit di Indonesia sepanjang semester pertama tahun ini.
Capaian dari seluruh produsen Jepang tersebut setara dengan 0,17 persen dari total pasar EV nasional yang berjumlah puluhan ribu unit. Ketimpangan performa ini terlihat sangat kontras jika dibandingkan dengan pencapaian pabrikan asal China.
Sebagai ilustrasi, satu model dari pabrikan China, yaitu Jaecoo J5, sukses membukukan penjualan sebanyak 16.990 unit dalam waktu enam bulan pertama tahun 2026. Volume penjualan satu model ini saja sudah 142 kali lipat lebih banyak dibandingkan total penjualan gabungan seluruh mobil listrik merek Jepang.
Data distribusi dari pabrik ke dealer memperlihatkan angka yang sangat minim untuk setiap model kendaraan listrik murni yang ditawarkan oleh produsen Jepang di pasar domestik.
| Model Kendaraan | Jumlah Penjualan (Unit) |
|---|---|
| Honda E: N1 | 54 |
| Toyota bZ4x | 51 |
| Suzuki e Vitara | 13 |
| Toyota Urban Cruiser | 1 |
| Nissan Leaf | 0 |
Faktor Penyebab Ketertinggalan Produsen Jepang
Terdapat sejumlah faktor krusial yang melatarbelakangi rendahnya minat konsumen tanah air terhadap mobil listrik produksi Jepang, salah satunya adalah persoalan harga yang dinilai kurang kompetitif.
Sebagai contoh, Toyota bZ4X dipasarkan untuk segmen premium dengan banderol harga yang mendekati angka Rp 1 miliar. Kondisi ini berbanding terbalik dengan strategi yang diterapkan oleh produsen otomotif China.
Pabrikan asal China mampu menyajikan kendaraan utilitas sport (SUV) listrik dengan spesifikasi yang lebih tinggi, kelimpahan fitur modern, serta jarak tempuh yang jauh dalam rentang harga Rp 200 juta hingga Rp 600 jutaan saja.
Selain faktor harga, aspek keberagaman model juga menjadi penentu preferensi konsumen di pasar domestik. Produsen asal China dinilai sangat agresif dalam meluncurkan berbagai lini produk baru, mulai dari mobil perkotaan berukuran mungil, SUV kompak, hingga model MPV mewah.
Di sisi lain, pilihan produk EV murni dari merek-merek Jepang di pasar Indonesia masih sangat terbatas hingga saat ini. Produsen otomotif asal Jepang seperti Toyota dan Suzuki tampaknya masih memilih untuk fokus pada pengembangan teknologi hybrid (HEV) ketimbang langsung beralih sepenuhnya ke segmen listrik murni (BEV). Hingga saat ini, pasar kendaraan hybrid di Indonesia memang masih sangat kuat dikuasai oleh produsen asal Jepang.