Meta Kembangkan Muse Spark demi Kejar Ketertinggalan Teknologi AI
Langkah besar diambil oleh Meta dengan mengucurkan investasi masif untuk meningkatkan kemampuan kecerdasan buatan (AI) mereka yang sempat tertinggal dari para kompetitor. Seperti dikutip dari Detik iNET, upaya tersebut dilakukan salah satunya dengan merekrut pakar AI Alexandr Wang melalui pendanaan sebesar USD 14 miliar atau sekitar Rp 248 triliun. Dana besar tersebut dialokasikan untuk Scale AI, sebuah perusahaan rintisan yang didirikan oleh Wang, pemuda yang kini menginjak usia 29 tahun dan dikenal jenius di sektor AI.
Selain investasi dana, beberapa insinyur dari Scale AI juga diboyong untuk bergabung bersama Meta.
Di bawah kepemimpinan Wang di Meta Superintelligence Labs, pencapaian signifikan berhasil diraih melalui peluncuran model AI bernama Muse Spark pada April lalu. Kehadiran produk baru ini membuat posisi Meta kembali diperhitungkan dalam persaingan AI, walaupun posisinya masih berada di belakang OpenAI, Anthropic, dan Google.
Kendati demikian, inovasi teknologi ini tercatat belum memberikan kontribusi positif yang signifikan dari sisi finansial perusahaan. Saat ini, CEO Meta Mark Zuckerberg memiliki tanggung jawab besar untuk mengubah hasil kerja keras Wang menjadi keuntungan finansial yang nyata.
Tantangan utama yang dihadapi adalah membuktikan bahwa perusahaan mampu menarik minat pengguna berbayar untuk menggunakan layanan AI tersebut. "Meta perlu memberi lebih banyak bukti nyata terkait adopsi maupun komersialisasi. Investor menantikan Meta memonetisasi produk baru yang mengutamakan AI, di luar dampak positif substansial yang diberikan AI dalam menyempurnakan model periklanan," ujar Ralph Schackart, analis di William Blair yang dikutip detikINET dari CNBC. Di sisi lain, pergerakan di Wall Street menunjukkan bahwa para investor belum merasa terkesan.
Kondisi ini terlihat dari nilai saham Meta yang mengalami penurunan sebesar 18% dalam kurun waktu 12 bulan terakhir.
Penurunan saham tetap terjadi meskipun Meta sebelumnya telah melaporkan adanya pertumbuhan pendapatan mencapai 33% pada kuartal pertama. Pada awal perkembangannya, Meta memasuki industri AI lewat model Llama dengan menerapkan pendekatan open source yang membebaskan pengembang tanpa biaya. Namun, strategi tersebut justru berujung pada kegagalan yang merugikan bagi perusahaan.
Peluncuran Llama 4 pada April 2025 tidak berhasil menarik perhatian para pengembang teknologi.
Kegagalan tersebut memaksa Zuckerberg untuk meninjau ulang seluruh strategi pendekatan AI yang telah dijalankan Meta. Dua bulan setelah kegagalan itu, Zuckerberg mengambil langkah mengejutkan dengan mengumumkan investasi USD 14,3 miliar untuk Scale AI sekaligus menarik Wang ke dalam tim.
Kehadiran Muse Spark yang dikembangkan oleh Wang pada April tahun ini mulai memberikan dampak positif bagi pergerakan internal perusahaan. Model AI terbaru ini dirancang agar dapat terintegrasi dengan mudah ke dalam aplikasi ekosistem Meta, seperti Facebook dan Instagram, hingga perangkat keras kacamata Ray-Ban Meta.
Meski model ini dinilai berkualitas, jalan yang harus ditempuh Zuckerberg tetap dinilai berat akibat dampak dari kegagalan proyek Llama sebelumnya. "Saya rasa komunitas AI sebagian besar mengabaikan Meta pada titik ini," ujar Rob May, CEO startup Neurometric. Pandangan lain disampaikan oleh Andrew Moore, CEO startup korporat Lovelace sekaligus mantan kepala AI Google Cloud, yang menilai Meta belum terlambat untuk menemukan momentumnya.
Meta wajib memperlihatkan keunggulan spesifik di sektor AI, baik dari aspek efisiensi biaya maupun detail teknis yang krusial bagi komunitas pengembang.
Tantangan internal juga membayangi Meta seiring dengan penurunan moral kerja akibat kebijakan pemutusan hubungan kerja terhadap sekitar 8.000 karyawan. Selain itu, terdapat dinamika ketegangan di tingkat petinggi organisasi pengembangan AI tersebut. Walaupun peluncuran Muse Spark mendapat apresiasi tinggi di internal perusahaan, tekanan besar tetap dirasakan oleh Wang beserta mantan CEO GitHub Nat Friedman yang ikut bergabung.
Kendati demikian, dalam sebuah podcast pada bulan Mei, Wang membantah adanya isu konflik internal di dalam tubuh perusahaan.
Wang menyebut Muse Spark sebagai 'makanan pembuka"'untuk apa yang akan datang, dan mengatakan bahwa akan ada model-model yang lebih kuat.