Microsoft Perbarui Sertifikat Secure Boot Guna Cegah Ancaman Bootkit

Share

Perusahaan teknologi asal Amerika Serikat, Microsoft, meluncurkan pembaruan skala besar untuk memperbarui sertifikat digital Secure Boot pada sistem operasi Windows 11 guna mencegah risiko keamanan jangka panjang. Langkah ini diambil karena masa berlaku sertifikat kriptografi yang diperkenalkan sejak tahun 2011 akan habis pada tanggal 24 Juni 2026.

Melalui laporan teknisnya, Microsoft menjelaskan bahwa pembaruan ini sangat krusial bagi komputer yang diproduksi atau dikonfigurasi sebelum tahun 2023. Pembaruan tersebut dikirimkan melalui beberapa paket, termasuk Patch KB5092765 untuk Windows 11 versi 24H2 dan 25H2 yang dirilis pada 26 Mei 2026.

Sistem yang tidak menerima pembaruan ini akan kehilangan perlindungan pada rantai start up, sehingga rentan terhadap serangan perangkat perusak tingkat tinggi seperti bootkit dan rootkit. Selain itu, Microsoft juga menghentikan pembaruan daftar hitam perangkat lunak berbahaya (DBX) bagi sistem yang tidak ditambal.

Proses instalasi pembaruan tingkat firmware ini memerlukan perhatian khusus dari pengguna dan administrator IT. Pembaruan sertifikat Secure Boot tidak dapat diselesaikan hanya dengan satu kali restart, melainkan membutuhkan beberapa kali sistem restart otomatis secara berurutan agar sinkronisasi data dengan UEFI berjalan sempurna.

Pengguna dapat memantau status pembaruan ini melalui aplikasi Windows Security di bagian keamanan perangkat. Indikator warna hijau menunjukkan sistem siap, warna kuning menandakan ada pembaruan tertunda, sedangkan warna merah berarti terdapat pemblokiran pada sistem.

Bersamaan dengan pembaruan keamanan, Microsoft merilis pembaruan opsional KB5089573 yang mengawali inisiatif Windows K2 untuk meningkatkan performa CPU. Namun, laporan dari IT Boltwise menyebutkan bahwa sejumlah perangkat mengalami kegagalan instalasi pada pembaruan KB5089549 akibat ukuran partisipai sistem EFI (ESP) yang terlalu kecil.

Analis teknologi dari media IT Boltwise menyampaikan sebuah pandangan mengenai penanganan masalah sistem operasional tersebut.

"Wer Update-Fehler als Zustand behandelt, nicht als Vorfall, reduziert Ausfallzeiten deutlich." kata seorang analis yang dikutip oleh IT Boltwise.

Pernyataan tersebut menekankan pentingnya menganggap kegagalan pembaruan sebagai sebuah kondisi yang harus dikelola, bukan sekadar insiden biasa. Tim administrator IT disarankan untuk menerapkan strategi mitigasi bertahap guna memperbesar partisi EFI dan memastikan seluruh perangkat kerja menerima sertifikat pengganti sebelum tenggat waktu Juni 2026 berakhir.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
bram-adhitya-santoso
Author