Militer AS Gempur Iran Enam Malam Berturut-turut
Militer Amerika Serikat melancarkan gelombang serangan udara ke wilayah Iran pada Kamis, 16 Juli 2026, yang menandai malam keenam berturut-turut aksi saling serang demi melemahkan kemampuan pertahanan Teheran di Selat Hormuz. Serangan udara tersebut menghantam sejumlah titik strategis di Iran selatan dan pesisir, termasuk kota pelabuhan Bandar Abbas, Ahvaz, Qeshm, dan wilayah bandara Iranshahr, yang memicu ledakan besar serta evakuasi fasilitas publik. Teheran membalas serangan tersebut dengan menargetkan pangkalan militer serta sistem komunikasi AS di Yordania, Kuwait, dan Bahrain menggunakan serangan pesawat nirawak.
Pemerintah Iran mengecam keras tindakan tersebut dan mengeluarkan peringatan tegas mengenai dampak penyerangan terhadap fasilitas sipil mereka.
"all infrastructure in the region will be crushed under steel blows" ujar juru bicara militer Iran. Konflik bersenjata ini kembali memanas setelah kesepakatan awal untuk mengakhiri perang melalui nota kesepahaman (MOU) yang ditandatangani bulan lalu mengalami jalan buntu.
AS memutuskan untuk memberlakukan kembali blokade angkatan laut di pelabuhan-pelabuhan Iran dan melumpuhkan sebuah kapal tanker minyak kosong berbendera Curacao yang mencoba berlayar menuju Iran. Presiden AS Donald Trump memperingatkan Teheran untuk segera kembali ke meja perundingan atau menghadapi perluasan serangan militer, termasuk ancaman terhadap infrastruktur energi.
"better behave" kata Donald Trump, Presiden AS. Trump juga mengancam akan memperluas sasaran serangan udara ke wilayah pegunungan yang menjadi lokasi fasilitas nuklir bawah tanah Iran. "you better make a deal" kata Donald Trump, Presiden AS.
Di sisi lain, perwakilan perundingan dari Iran menegaskan tidak akan tunduk pada kesepakatan yang merugikan kedaulatan dan keamanan nasional mereka.
"no reason" kata Mohammad Bagher Ghalibaf, negosiator top Iran. Ghalibaf menambahkan bahwa penutupan Selat Hormuz merupakan bentuk pertahanan mutlak dalam menghadapi agresi militer sekutu. "Iranian arrangements" kata Mohammad Bagher Ghalibaf, negosiator top Iran.
Ghalibaf juga menegaskan bahwa situasi saat ini telah berkembang menjadi konflik eksistensial yang tidak terhindarkan.
"essential and existential war with America" kata Mohammad Bagher Ghalibaf, negosiator top Iran. Sebagai bentuk pembalasan atas blokade laut AS, Garda Revolusi Iran (IRGC) mengancam akan menghentikan seluruh jalur ekspor energi di kawasan Timur Tengah.
"expect the closure of other oil and gas export routes that serve the interests of the United States and its allies" kata juru bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Pihak militer Iran bersikeras bahwa jalur pelayaran internasional tersebut hanya akan dibuka jika AS mematuhi seluruh poin kesepakatan awal.
"regional energy exports are either shared by all or denied to all" kata juru bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Di tengah ketegangan militer ini, Trump mengonfirmasi pembebasan seorang warga negara AS, Dena Karari, yang ditahan oleh otoritas Iran sejak akhir tahun 2024. "The United States of America appreciates this gesture of Goodwill by Iran!" tulis Donald Trump, Presiden AS.
Gedung Putih mengapresiasi pemulangan tersebut sebagai bentuk iktikad baik, meskipun pertempuran di lapangan masih terus berlangsung.
"The United States of America appreciates this gesture of goodwill by Iran" tulis Donald Trump, Presiden AS. Kuasa hukum sandera tersebut mengonfirmasi bahwa kliennya telah berhasil keluar dari Iran dan sedang dalam perjalanan pulang ke Amerika Serikat. "Dena is now safe and traveling back to the United States" tulis Jared Genser, pengacara Dena Karari.