Militer Israel Tewaskan Sembilan Warga di Jalur Gaza
Pasukan militer Israel menewaskan sedikitnya sembilan warga Palestina melalui rangkaian serangan udara dan penembakan di Jalur Gaza pada Sabtu. Peristiwa yang merenggut nyawa warga sipil termasuk anak-anak tersebut terjadi di tengah situasi gencatan senjata yang belum sepenuhnya menghentikan kekerasan.
Jumlah korban jiwa dikonfirmasi oleh pejabat kesehatan setempat sebagaimana dilansir dari Detikcom melalui laporan Reuters pada Minggu (21/6/2026). Serangan udara di sebuah gedung apartemen di Kota Gaza, tepatnya di lingkungan Sabra, menyebabkan empat orang tewas termasuk dua wanita dan seorang anak, serta melukai beberapa warga lainnya.
Insiden fatal juga meluas ke wilayah lain di Gaza. Pasukan Israel menembak mati seorang wanita di kota Beit Lahiya bagian utara, sementara serangan udara di Khan Younis menewaskan satu orang dan melukai delapan lainnya. Di kamp pengungsi Bureij, serangan udara menewaskan tiga orang, termasuk seorang fotografer lokal.
Kementerian Kesehatan Gaza mencatat lebih dari 1.010 warga Palestina gugur akibat tembakan Israel sejak gencatan senjata bulan Oktober lalu dimulai, yang sebelumnya sempat menghentikan pertempuran besar antara Hamas dan Israel. Pada periode yang sama, kelompok militan menewaskan empat tentara Israel di Gaza.
Proses diplomasi mengenai masa depan wilayah ini masih mengalami jalan buntu terkait implementasi fase kedua dari rencana Gaza yang diajukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Rencana tersebut mengharuskan Hamas meletakkan senjata dan menuntut penarikan penuh pasukan Israel dari wilayah tersebut.
Perundingan yang difasilitasi oleh mediator dari Mesir, Qatar, Turki, serta utusan Dewan Perdamaian Trump untuk Gaza belum membuahkan kesepakatan tertulis. Pada hari Rabu, utusan tersebut dilaporkan telah menyerahkan revisi peta jalan rencana yang mengakomodasi sejumlah kekhawatiran faksi namun tetap mempertahankan prinsip inti dari proposal awal.
Hamas mengonfirmasi bahwa dokumen revisi tersebut sedang dipelajari secara internal. Pihak Hamas tetap mengaitkan pelucutan senjata penuh dengan pembukaan jalur politik resmi menuju pembentukan negara Palestina yang berdaulat.
Sebaliknya, pihak Israel menegaskan prasyarat mutlak agar Hamas menyerahkan kekuasaan penuh di Gaza, melakukan demiliterisasi total, serta tidak dilibatkan dalam pemerintahan masa depan. Sejak serangan lintas batas pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan 1.200 orang di Israel, Kementerian Kesehatan Gaza mencatat total korban tewas di pihak Palestina telah melampaui 73.000 jiwa.