Pemkot Depok dan KLH Siapkan Langkah Mitigasi Usai Kebakaran TPA Cipayung
Pemerintah Kota Depok bersama Kementerian Lingkungan Hidup merancang sejumlah langkah antisipasi taktis guna mencegah terulangnya kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir atau TPA Cipayung, Depok, Jawa Barat. Kebakaran hebat tersebut sebelumnya dilaporkan melanda kawasan tumpukan sampah pada Kamis (16/7/2026) malam, seperti dilansir dari Detikcom.
Wakil Wali Kota Depok, Chandra Rahmansyah, menjelaskan bahwa salah satu upaya mitigasi yang akan segera berjalan adalah pembasahan area tumpukan sampah secara berkala. Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Depok merencanakan penyiraman tersebut sebanyak dua kali dalam sehari pada titik-titik rawan.
"Tadi juga, nanti kami per satu hari dua kali, dari Ibu Kadis (LHK Depok) rencana akan melakukan pembasahan, penyiraman satu hari dua kali untuk mitigasinya," kata Chandra Rahmansyah, Wakil Wali Kota Depok.
Chandra menambahkan bahwa pengawasan di area pembuangan sampah tersebut akan diperketat secara signifikan. Selain mengandalkan patroli petugas di darat, pemerintah daerah juga berniat mengerahkan teknologi pemantauan udara.
"Pertama, memperkuat pengawasan. Pertama kami hal ini dari DLHK juga sebenarnya sudah melakukan patroli lapangan secara rutin. Tapi nanti akan ditambahkan dengan patroli drone.
Seperti itu. Kedua, memperkuat juga tim, tim untuk mitigasi apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan," kata Chandra Rahmansyah, Wakil Wali Kota Depok.
Sementara itu, Kementerian Lingkungan Hidup turut menerjunkan tim khusus yang terdiri dari Deputi Penegakkan Hukum, Direktorat Udara, serta Direktorat Penanganan Sampah untuk menganalisis kondisi pascakebakaran. Deteksi suhu panas di bawah tumpukan sampah dilakukan menggunakan teknologi pemantauan termal jarak jauh.
"Tadi pagi kami menerbangkan drone termal kami untuk menganalisa apakah masih terdapat titik api atau tidak gitu ya. Dari hasil analisa drone termal kami untuk titik api permukaan, kita lihat memang sudah tidak ada," kata Ardyanto Nugroho, Direktur Pengaduan dan Pengawasan Lingkungan Hidup KLH.
Ardyanto memaparkan bahwa pemantauan udara tersebut akan dilakukan secara terjadwal guna mendeteksi potensi bara api yang tersembunyi. Pengawasan intensif ini difokuskan pada area dalam gunungan sampah yang sulit dijangkau secara visual.
"Setiap 3 jam kami akan terbangkan drone termal kami untuk memantau titik api-titik api terutama yang di bawah permukaan," kata Ardyanto Nugroho, Direktur Pengaduan dan Pengawasan Lingkungan Hidup KLH.
Selain drone pemantau suhu, kementerian terkait juga menempatkan unit kendaraan khusus pemantau kualitas udara di sekitar area terdampak. Langkah tersebut diambil guna memastikan kesehatan warga sekitar tidak terganggu oleh paparan zat berbahaya akibat asap sisa kebakaran.
"Itu mobil stasiun pemantauan kualitas udara yang bisa mobile ke mana saja. Fungsinya adalah untuk mengukur beberapa parameter seperti misalnya PM2.5, PM10, dan partikel lainnya dan zat yang lainnya. Ini setiap parameter memiliki baku mutu.
Ketika dia melebihi baku mutu, itu ada risiko terhadap kesehatan masyarakat. Dan itu kita pantau terus di situ," kata Ardyanto Nugroho, Direktur Pengaduan dan Pengawasan Lingkungan Hidup KLH.
Berdasarkan data kronologi kejadian, api mulai membakar tumpukan sampah di TPA Cipayung pada Kamis (16/7) sekitar pukul 19.30 WIB. Sumber api dilaporkan berawal dari lapisan dalam tumpukan sampah sebelum akhirnya menjalar ke permukaan.
"Kejadiannya kalau tadi menurut informasi jam 19.30, ya. Dari bawah kayaknya (titik api)," kata Rni Siti, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Depok.
Kobaran api akhirnya berhasil dipadamkan sepenuhnya oleh petugas pada malam yang sama sekitar pukul 22.52 WIB. Saat ini, otoritas berwenang masih melakukan penyelidikan mendalam guna memastikan penyebab utama dari munculnya titik api tersebut.