Mobil Listrik Xpeng G6 Uji Fitur Otonom Lanjutan di Jalanan Indonesia
Produsen otomotif asal China menunjukkan keberanian besar dalam menghadirkan teknologi berkendara otonom ke pasar Indonesia. Langkah ini tergolong berani mengingat karakteristik jalanan domestik yang masih memiliki tantangan tersendiri, seperti permukaan tidak merata serta marka jalan yang belum sepenuhnya rapi.
Kondisi lalu lintas di tanah air juga menuntut sistem kecerdasan buatan kendaraan untuk bekerja ekstra keras. Faktor seperti keberadaan sepeda motor yang kerap berpindah jalur secara mendadak menjadi tantangan nyata bagi efektivitas sensor otonom.
Dilansir dari Detik Oto, salah satu model yang baru saja diuji coba di jalanan ibu kota adalah Xpeng G6. Kendaraan listrik yang dipasarkan dengan estimasi harga Rp 600 jutaan ini dibekali dengan sistem kendali mandiri level lanjutan.
SUV listrik ini mengandalkan teknologi Xpilot 4.0 yang mengintegrasikan sensor, LiDAR, dan chip AI untuk memproses navigasi. Saat dilakukan pengujian di jalur tol dan area Jakarta Pusat yang lengang, kendaraan mampu melaju secara mandiri tanpa kendala teknis.
Sistem komputer pada mobil bahkan dapat melakukan manuver menyalip kendaraan lain di depannya secara presisi tanpa intervensi pengemudi pada setir. Namun, performa optimal ini sejauh ini baru dibuktikan pada kawasan jalan yang relatif sepi.
Chief Executive Officer (CEO) Xpeng Indonesia, Iki Wibowo menjelaskan bahwa prinsipal selalu melakukan studi mendalam mengenai budaya mengemudi dan kondisi infrastruktur sebelum meluncurkan produk di suatu negara.
"Ada sih (studinya), kita ada kirim data (ke prinsipal). Kemudian dari mobil juga menganalisa, pasti ada penyesuaian yang bukan dari setting-an, tapi big data-nya. Jadi tersimpan di server untuk beradaptasi lebih baik lagi, lebih safety lagi," ujar Iki Wibowo di Bogor, Jawa Barat.
Selain kemampuan melaju di jalan raya, model ini juga dilengkapi dengan fitur intelligent parking assistance. Teknologi tersebut memungkinkan mobil mendeteksi dan masuk ke ruang parkir secara mandiri tanpa perlu diawasi dari dalam kabin.
Ketersediaan marka parkir yang jelas di berbagai pusat perbelanjaan dan gedung perkantoran Indonesia sangat membantu akurasi sensor saat membaca ruang.
"Sebelum dirilis, prinsipal pasti studi dulu (soal kondisi jalan raya dan budaya mengemudi di Indonesia). Kita juga ada tes jalan 18-20 ribu km, data itu yang kita pelajari," kata dia.