Aplikasi Mobile JKN Memudahkan Pasien Tiroid dan Lemak Hati Berobat

Share

Program Jaminan Kesehatan Nasional atau JKN mempermudah pengobatan penderita gangguan tiroid Ahmad Sugiri di Sleman dan pasien fatty liver Angga Saputra di Jakarta melalui optimalisasi fitur Antrean Online pada aplikasi Mobile JKN.

Ahmad Sugiri, warga Gunungkidul yang berstatus peserta JKN segmen PBPU BP Pemda, rutin melakukan kontrol kesehatan bulanan akibat benjolan tiroid di Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan atau FKRTL daerah Kalasan, Sleman.

"Kata dokter tiroid. Jadi ini saya rutin kontrol di poli penyakit dalam," ujar Ahmad dalam keterangan tertulis pada Rabu, 17 Juni 2026.

Sebelum memanfaatkan sistem digital, ia kerap mendapatkan nomor urut yang besar akibat harus mengantre dan mendaftar secara langsung di lokasi fasilitas kesehatan.

"Sekarang bisa daftar antrean lewat Aplikasi Mobile JKN. Nomor antreannya bisa di bawah 20, jadi lebih nyaman," kata Ahmad.

Ahmad yang sempat kehilangan mata pencaharian sebagai buruh pabrik merasa sangat terbantu karena seluruh biaya penanganan medis dan obat-obatan ditanggung sepenuhnya oleh negara.

"Sejak pertama kali menjadi peserta JKN, saya tidak pernah mengeluarkan biaya untuk berobat sama sekali. Sangat membantu, semua gratis," jelas Ahmad.

Bantuan pembiayaan tersebut memulihkan kondisi perekonomiannya di masa transisi kepesertaan setelah mengurus perpindahan administrasi kependudukan ke Daerah Istimewa Yogyakarta.

"Alhamdulillah, setelah terdaftar langsung mendapat bantuan iuran dari pemerintah. Saat itu saya memang baru kehilangan pekerjaan, jadi sangat membantu," ungkap Ahmad.

Pria dengan empat anak tersebut kini menaati petunjuk tim medis faskes pertama sebelum dirujuk ke penanganan spesialis penyakit dalam.

"Lalu oleh dokter spesialis bedah disarankan ke dokter spesialis penyakit dalam terlebih dahulu. Saya ikut saran dokter saja," tutur Ahmad.

Ahmad menyatakan bahwa gejala gangguan fisik yang sempat menyulitkannya saat mengonsumsi makanan kini sudah mulai berkurang secara bertahap.

"Dulu saat makan rasanya kurang nyaman. Sekarang sudah jauh lebih baik," ujar Ahmad.

Pihaknya menegaskan kesiapan penuh apabila tim dokter di masa mendatang merekomendasikan tindakan bedah untuk kesembuhan total.

"Kalau nantinya dokter spesialis bedah menyarankan untuk operasi, saya juga manut. Karena itu pasti juga untuk kebaikan saya," kata Ahmad.

Manfaat sistem digital JKN juga dirasakan oleh Angga Saputra, seorang pegawai negeri sipil di Jakarta Selatan, yang menjalani pemulihan intensif selama dua bulan karena penyakit pelemakan hati.

"Akhirnya, saya langsung dirujuk ke RSUD Pasar Minggu dengan alur yang sangat rapi. Petugas di sana juga memandu seluruh proses rujukan saya dengan sangat baik," kata Angga.

Selama menjalani perawatan berkala di rumah sakit, Angga diwajibkan melakukan puasa serta mematuhi pembatasan pola makan demi memulihkan fungsi organ hatinya.

"Ditambah lagi, sikap para tenaga medis di rumah sakit sangat ramah kepada pasien. Pelayanan yang baik ini benar-benar membuat beban saya berkurang," ungkap Angga.

Penggunaan fitur digital diakuinya sangat menghemat durasi waktu di tengah kesibukan dinasnya sebagai aparatur sipil negara.

"Fitur Antrean Online itu betul-betul mengubah cara kita saat berobat. Proses pelayanannya sangat memudahkan para peserta di faskes. Sistem digital ini juga sangat menghemat waktu kerja saya sebagai PNS. Saya tidak perlu lagi membuang waktu untuk mengantre lama," kata Angga.

Ia memandang program BPJS Kesehatan berfungsi sebagai jaring pengaman sosial yang krusial bagi kondisi finansial kelompok masyarakat menengah ke bawah.

"Banyi saya, satu kata yang paling tepat untuk menggambarkan BPJS Kesehatan adalah bermanfaat. Program ini hadir sebagai bantalan perlindungan yang sangat nyata bagi masyarakat," ujar Angga.

Angga menambahkan bahwa aksesibilitas medis yang setara memberikan peluang kesembuhan yang sama bagi setiap warga negara tanpa terkendala biaya.

"Keberadaan program JKN dapat memastikan warga menengah ke bawah tidak perlu cemas memikirkan biaya saat jatuh sakit. Semua orang kini memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk mendapatkan kesembuhan," jelas Angga.

Ia berharap pihak manajemen jaminan kesehatan terus memperbarui infrastruktur digital serta mengkaji penyesuaian nilai tarif iuran kepesertaan.

"Semoga ke depan sistem pelayanan kesehatan ini bisa jauh lebih baik lagi. Saya juga berharap para pemangku kebijakan dapat meninjau kembali nominal iuran berkala," kata Angga.

Penyesuaian tarif tersebut dinilai krusial agar alokasi pengeluaran bulanan masyarakat untuk sektor kesehatan menjadi lebih terjangkau.

"Langkah ini tentu akan sangat membantu meringankan beban finansial masyarakat," tutur Angga.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
daffa-raihan-maulana
Author