Napi Garut Kembangkan Produk Kopi Paskopi dengan Dukungan Kalapas
Seorang narapidana kasus tindak pidana perdagangan orang (TPPO) bernama Amir (48) mengembangkan produk kopi kemasan bermerek Paskopi di Lapas Kelas IIA Garut dengan dukungan Kalapas Rusdedy, Rabu (19/8/2026), dilansir dari Detikcom.
Amir yang sebelumnya seorang eksportir kopi memanfaatkan pengalaman dan keahlian timnya untuk melatih warga binaan mengolah kopi robusta asal Garut menjadi produk kemasan yang kini terjual hingga ratusan saset per bulan baik di lapas maupun ke pasar luar.
Menurut Amir, program bimbingan kerja pengolahan kopi memberikan dua keuntungan utama: menambah opsi kemandirian napi dan membuka peluang usaha yang menghasilkan premi bagi warga binaan.
"Kita lihat sehari-hari teman-teman di sini ngopi. Kopi itu sudah jadi minuman sehari-hari semua kalangan, termasuk warga binaan. Daripada beli kopi dari luar, lebih baik kita bantu beli biji kopi petani dan olah sendiri," ujar Amir.
Amir mengaku awalnya belum pernah memproduksi kopi, namun berkat tim ahli roasting dan racik yang diundang ke lapas, warga binaan kini mampu melakukan proses roasting dan pengemasan sendiri.
Hubungan Amir dengan Kalapas Rusdedy terjalin erat dan seperti sosok 'pejabat rasa sahabat' yang memberi kepercayaan dalam pengembangan usaha.
"Di sini yang betul-betul saya rasakan, antara saya dan beliau, Pak Kalapas, bukan seperti napi dan pejabat. Yang saya rasakan seperti pejabat rasa sahabat," kata Amir.
Produksi Paskopi sempat mencapai penjualan 1.500 saset per minggu dan kini sekitar 500 saset per bulan di kantin lapas serta 400-500 saset per bulan di Rutan Garut.
Namun pengembangan produksi menghadapi kendala peralatan, terutama mesin pengemas yang rusak. Perbaikan dilakukan secara daring dengan bantuan teknisi dari Yogyakarta dan biaya perbaikan ditanggung pribadi Kalapas Rusdedy.
Selain kopi kemasan, Amir juga mengembangkan racikan minuman lain seperti ice coffee beer, kopi stamina dengan rempah, dan coconut coffee latte yang menggunakan santan asli.
Amir berencana membuka gerai setelah bebas dan mendorong napi lain yang belajar di dapur Paskopi melakukan hal sama.
Kalapas Rusdedy yang berpengalaman 26 tahun di pemasyarakatan mengedepankan pembinaan kemandirian napi melalui berbagai program UMKM sesuai karakteristik wilayah lapas.
"Saya berpikir jika menjadi petugas lapas, saya bisa mengajarkan warga binaan untuk mempunyai keterampilan yang saya miliki," ujar Rusdedy.
Pada pengalaman sebelumnya, Rusdedy memimpin berbagai program seperti produksi mebel, sablon, konveksi, dan integrated farming termasuk pengolahan sabut kelapa yang diekspor ke Tiongkok serta pengembangan pertanian dan peternakan di lapas lain.
Konsep zero waste dan pemanfaatan limbah menjadi bagian penting dari model pembinaan kemandirian yang diterapkan Rusdedy di lapas-lapas yang dipimpinnya.