Narapidana Lapas Sukamiskin Produksi Kapal untuk Ketahanan Pangan dan Pertahanan
Narapidana di Lapas Sukamiskin, Bandung, memproduksi dua jenis kapal sepanjang 10 meter untuk mendukung program ketahanan pangan dan penguatan pertahanan nasional, dilansir dari Detikcom.
Kapal pertama, Sukaboat Fisherman 10 (SBF-10), dirancang untuk nelayan dengan bahan fiberglass dan model tradisional. Kapal kedua, Sukaboat 10 (SB-10), bertujuan sebagai armada pertahanan nasional dengan teknologi tinggi.
Emirsyah Satar, narapidana yang menjadi bagian tim manajerial Sukaboat, menyatakan, "Spesialnya dalam project Sukaboat, kapal SBF10 ini dipersembahkan para napi untuk mendukung program Asta Cita Bapak Presiden. Kan di situ adalah ketahanan pangan dan kesejahteraan nelayan, kami ingin berkontribusi."
Pengembangan kapal ini diawali dengan menyesuaikan kebutuhan nelayan rajungan di Cirebon, Jawa Barat. Rio, narapidana dan anggota tim manajerial Sukaboat, menjelaskan, "Kami ambil satu contoh kapal nelayan yang dari kayu, lalu kami akan convert menjadi fiberglass, tapi dengan desain, look-nya tradisional. Jadi kearifan lokal kami mesti pertahankan, karakter dan layout-nya sesuai kebutuhan nelayan kita."
Rio menambahkan bahan fiberglass membuat kapal lebih ringan dan menghemat bahan bakar. "Jadi kita adjust bahan kapalnya, propelernya kita kencengin dengan mesin yang sama, jadi harusnya lebih irit karena fiberglass tidak seberat kayu," ujarnya.
Selain itu, tim Sukaboat juga membahas skenario nelayan membeli kapal melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) atau koperasi nelayan. "Jadi kan napi mau bantu negara. Kalau dari ketahanan pangan, perikanan kami bantu dengan kapal untuk nelayan. Nelayan bisa membeli kapal ini mungkin dengan KUR atau koperasi nelayan," kata Rio.
Untuk kapal pertahanan SB-10, Rio menyebut kapal ini didesain sebagai kapal cepat berbahan aluminium dengan target kecepatan hingga 50 knot dan kemampuan mengurangi deteksi radar. "Kalau yang 10 meter ini, ceritanya laut kita kan mesti dilindungi. Jadi kami berangan-angan kalau kami bikin kapal 10 meter yang siap menghadapi ancaman kedaulatan negara di wilayah perairan," ujarnya.
Rio juga menilai potensi besar jika kemampuan membuat kapal ini disebarkan ke seluruh narapidana di lapas di Indonesia. "Bayangkan kalau napi-napi sejumlah 187 ribu di lapas ini bisa membuat kapal, napi-napi di seluruh lapas bisa membuat kapal untuk pertahanan. Ada yang ngecor resin dan lain-lain. Jadi modulnya kami buat dari Lapas Sukamiskin, bisa untuk membantu pertahanan negara, dan cost-nya lebih murah karena dikerjakan para warga binaan di pemasyarakatan," jelasnya.