Australia dan Sejumlah Negara Antisipasi Dampak Fenomena Super El Nino

Share

Sejumlah negara mengonfirmasi kemunculan fenomena iklim El Nino berkategori kuat yang berpotensi memicu kekeringan ekstrim, gelombang panas, hingga ancaman serius bagi produksi pangan global pada paruh kedua tahun 2026 ini.

Dilansir dari Detik Health, penguatan indikator atmosfer dan kenaikan suhu permukaan laut di wilayah Samudra Pasifik tropis menjadi dasar penetapan status waspada tersebut. Kondisi ini dikhawatirkan mengganggu stabilitas pasokan komoditas pertanian dunia.

Biro Meteorologi Australia (BoM) secara resmi mengumumkan pembentukan pola cuaca tersebut pada Selasa (16/6/2026). Lembaga ini memprediksi intensitas pemanasan yang terjadi berpotensi mencatatkan rekor tertinggi dalam tujuh dekade terakhir.

"Perkiraan menunjukkan El Nino kuat hingga sangat kuat berdasarkan tingkat pemanasan yang terjadi di Pasifik tropis bagian tengah," tulis BoM, Badan Meteorologi Australia.

Analisis lebih lanjut dari lembaga kedaulatan Australia tersebut memperlihatkan pemodelan iklim modern yang mengarah pada situasi ekstrem. Dampak langsung dipastikan menyasar wilayah timur benua kangguru berupa penurunan drastis curah hujan.

Sektor pertanian menjadi bagian paling rentan bagi Australia selaku negara eksportir utama komoditas gandum, gula, dan daging sapi dunia. Pengalaman historis mencatat periode 2023-2024 sebagai tiga bulan terkering akibat fenomena serupa.

Sebelum pengumuman resmi dari Australia, lembaga cuaca dan iklim nasional Amerika Serikat, NOAA, telah terlebih dahulu mempublikasikan hasil pemantauan perkembangan El Nino di Samudra Pasifik. NOAA memperingatkan dampak sistemik yang dapat memicu hujan lebat di benua Amerika, namun membawa kekeringan parah di Asia.

Badan Meteorologi Jepang (JMA) turut memvalidasi data tersebut dengan menyatakan parameter El Nino telah terpenuhi. JMA memperkirakan fenomena alam ini akan bertahan dan mendominasi pola cuaca hingga akhir musim gugur mendatang.

Istilah 'Super El Nino' disematkan para ahli iklim karena besarnya peluang intensitas fenomena tahun ini menyamai peristiwa ekstrem pada tahun 1982-1983, 1997-1998, dan 2015-2016. Faktor pemanasan global diyakini para ilmuwan akan memperparah durasi kekeringan dan risiko kebakaran hutan.

Suhu bumi yang terus meningkat membuat dampak turunan El Nino menjadi lebih destruktif bagi ketahanan pangan internasional. Berbagai negara kini mulai mempersiapkan langkah mitigasi strategis guna menghadapi ancaman krisis air bersih serta lonjakan harga pangan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
gilang-permana-putra
Author