Netflix Merilis Film Komedi Romantis Voicemails for Isabelle

Share

Netflix resmi merilis film komedi romantis terbaru berjudul Voicemails for Isabelle pada Jumat, 19 Juni 2026. Film ini menampilkan kolaborasi perdana antara aktor Zoey Deutch dan Nick Robinson sebagai sepasang kekasih dengan latar cerita yang emosional di San Francisco.

Cerita berpusat pada tokoh Jill yang diperankan oleh Deutch, seorang calon juru masak yang berjuang mengatasi rasa duka setelah adik perempuannya meninggal dunia akibat fibrosis kistik. Untuk meluapkan emosinya, Jill terus mengirimkan pesan suara ke nomor mendiang adiknya, tanpa menyadari bahwa nomor tersebut telah dialihkan kepada seorang agen real estat bernama Wes yang diperankan oleh Robinson.

Hubungan keduanya mulai terbangun secara unik ketika Wes mendengarkan curahan hati Jill dan mulai menaruh hati padanya. Dilansir dari People Magazine, kedua pemeran utama tersebut mengungkapkan bahwa mereka rutin mengikuti kelas yoga bersama untuk membangun kemesraan dan kedekatan yang kuat selama proses produksi film berlangsung.

"There's been a handful of things that we were either, I was going to do and you had to drop out, or you were in and I was going to [do something else]." ujar Nick Robinson, aktor utama Voicemails for Isabelle.

Meskipun sudah saling mengenal selama bertahun-tahun melalui lingkaran pertemanan yang sama di Los Angeles, proyek garapan sutradara Leah McKendrick ini menjadi momen pertama bagi keduanya untuk beradu akting dalam satu bingkai.

"So it's been many years [of] wanting to work together, so it's been just an absolute joy to have the opportunity to do it, and I'm really grateful," kata Nick Robinson.

Ia menceritakan bahwa kehangatan sikap Zoey Deutch sejak awal proyek membuat proses adaptasi di antara mereka berjalan dengan sangat mudah dan tanpa kendala berarti.

"It was from the jump Zoey was just really welcoming and warm and invited me to go to yoga class, and we took some yoga classes, and it was just really easy." tutur Nick Robinson.

Menanggapi hal tersebut, Zoey Deutch juga membenarkan bahwa kedekatan emosional mereka di masa lalu sangat membantu menciptakan performa yang alami di depan kamera.

"Shoutout Modo Yoga," kata Zoey Deutch, aktris utama Voicemails for Isabelle.

Menurutnya, sejarah pertemanan yang panjang membuat mereka tidak perlu bersusah payah membangun dinamika hubungan dari nol.

"Because we've known each other a long time and we've seen each other through different periods of our lives, and there is that history and time, it definitely lends toward in favor of there being chemistry and a built-in relationship, so I think it's hard to create that." tambah Zoey Deutch.

Sutradara sekaligus penulis naskah Leah McKendrick memberikan pujian mendalam terhadap jajaran aktor yang terlibat, khususnya kemampuan akting Deutch yang dinilai mampu menghidupkan karakter Jill dengan spektrum emosi yang sangat luas.

"No one can access all the colors quite like Zoey can." kata Leah McKendrick, sutradara Voicemails for Isabelle.

Selain Deutch, McKendrick juga mengagumi pesona klasik yang dibawa oleh Nick Robinson ke dalam karakter Wes, yang menurutnya memberikan sentuhan segar bagi genre komedi romantis modern.

"That smile! We’d all follow him anywhere," ujar Leah McKendrick.

Ia menambahkan bahwa suasana di lokasi syuting menjadi sangat hidup dan penuh tawa berkat interaksi antara Zoey Deutch dan Lukas Gage yang berperan sebagai Arthur.

"If this were middle school, Lukas and Zoey would have to be separated," tutur Leah McKendrick.

Keduanya sering kali tidak bisa menahan tawa di tengah-tengah pengambilan gambar karena kejenakaan satu sama lain.

"They make each other laugh uncontrollably." kata Leah McKendrick.

Mengenai perjalanan emosional tokoh Jill, McKendrick menjelaskan bahwa karakter tersebut harus melewati fase kedukaan yang sangat berat sebelum akhirnya menemukan ruang untuk romansa baru.

"Jill’s journey spans from dark, debilitating grief to tingly, Lover-era T-Swift new romance," jelas Leah McKendrick.

Oleh karena itu, pemilihan aktor yang tepat menjadi kunci utama agar karakter ini tetap terlihat rapuh sekaligus jenaka secara bersamaan.

"We always knew we needed an actor who was disarming and hilarious, yet excruciatingly raw." tambah Leah McKendrick.

Ia juga sempat mengkhawatirkan penggambaran karakter Wes pada naskah awal yang berpotensi terlihat manipulatif karena mendengarkan pesan suara rahasia orang asing, namun kekhawatiran itu sirna setelah Robinson resmi bergabung.

"Wes could easily come off as callous or even manipulative in the wrong hands. It was a concern on the page, but that faded as soon as we cast Nick," ungkap Leah McKendrick.

Karakter Wes dinilai berhasil dibawakan dengan penuh kelembutan berkat sifat asli sang aktor.

"There’s a genuine sensitivity to him, on and offscreen." kata Leah McKendrick.

McKendrick juga membagikan cerita unik mengenai pengembangan karakter Arthur yang diperankan Lukas Gage melalui diskusi pesan teks.

"Arthur comes off like a bit of a frat boy in a bakery, but he’s actually deeply insecure and an undercover weirdo," jelas Leah McKendrick.

Bahkan, mereka menambahkan detail-detail unik yang tidak biasa untuk memperkuat kepribadian aneh dari karakter pendukung tersebut.

"Before we knew it, there was a very large, very real taxidermy beaver in his bedroom and beaver tattoos on his body." tutur Leah McKendrick.

Di sisi lain, naskah film ini juga secara terbuka menyindir kemiripan premis ceritanya dengan beberapa film komedi romantis legendaris yang rilis pada dekade sebelumnya.

"This is like a sick reboot of You’ve Got Mail!" bunyi salah satu dialog dalam naskah yang ditulis oleh Leah McKendrick sebagaimana dilaporkan decider.com.

Film berdurasi hampir dua jam ini diproduksi oleh Escape Artists dan kini sudah dapat disaksikan secara global melalui platform streaming Netflix.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
danto-wijaya-kusuma
Author