Nvidia Targetkan Pasar China Lewat Chip Vera Berbasis Arm
Nvidia dilaporkan tengah berupaya keras memulihkan kepercayaan dan keuntungan bisnisnya di China yang sempat merosot tajam. Langkah ini diambil dengan mengandalkan produk komponen teranyar mereka yang diberi nama Vera. Seperti dikutip dari Detik iNET, pengiriman komponen kecerdasan buatan (AI) terkuat kedua milik Nvidia, yakni H200, ke negara tersebut sempat terhenti selama berbulan-bulan.
CEO Nvidia, Jensen Huang, mengonfirmasi bahwa pangsa pasar perusahaannya di China kini menyentuh angka nol, padahal negara itu merupakan salah satu konsumen terbesar mereka. Guna memenangkan kembali hati para pelanggan, Nvidia membidik sektor data center AI di China. Pemimpin perusahaan melihat sektor ini sebagai peluang bisnis baru yang berpotensi menghasilkan nilai miliaran dolar.
Berdasarkan informasi dari tiga sumber anonim, Nvidia telah mengabarkan kepada para klien di China bahwa komponen Vera berbasis Arm akan tersedia paling cepat pada Agustus 2026. Meski demikian, proses pemesanan sudah mulai dibuka sejak saat ini.
Kehadiran produk ini menempatkan Nvidia dalam persaingan yang lebih ketat dengan produsen CPU ternama, yakni Intel dan AMD. Kedua perusahaan tersebut diketahui telah lama mendominasi pasar prosesor melalui arsitektur x86. Namun, komponen Vera menjadi strategi baru Nvidia yang diklaim memiliki kecepatan 1,8 kali lipat dibandingkan CPU x86. Selain itu, produk ini menawarkan bandwidth memori empat kali lebih besar serta peningkatan performa hingga 50 persen dibanding CPU rak standar.
Menurut laporan Reuters, sejumlah konsumen di China mulai menunjukkan ketertarikan terhadap chip Vera. Salah satu korporasi penyedia layanan cloud di negara tersebut bahkan berencana memesan lebih dari 300 server, dengan spesifikasi masing-masing server berisi dua CPU Vera. Walau demikian, perusahaan yang belum diungkap identitasnya itu ingin melakukan pengujian performa terlebih dahulu. Keputusan pembelian dalam jumlah besar akan diambil setelah melihat hasil pengetesan tersebut.
Untuk urusan harga, satu unit Vera diperkirakan dijual dengan nominal lebih dari USD 20 ribu atau berkisar Rp 356 juta. Angka tersebut merupakan harga reguler yang belum mendapatkan potongan dari promo pembelian grosir. Ketertarikan pasar China terhadap produk ini bertepatan dengan pergeseran tren kompetisi AI global, dari yang semula fokus pada pelatihan model kini beralih ke komputasi inferensi.
Proses ini merupakan tahapan ketika machine learning yang telah dilatih menerapkan pengetahuannya pada data baru untuk menghasilkan prediksi, keputusan, dan respons. Kendati demikian, keberhasilan strategi Nvidia ini masih belum bisa dipastikan sepenuhnya. Hal ini disebabkan oleh kebijakan regulator China yang semakin gencar mendorong swasembada di sektor teknologi komponen, sehingga banyak perusahaan rintisan AI dan korporasi raksasa setempat beralih ke opsi produk lokal seperti Ascend milik Huawei serta Hanguang kepunyaan T-Head.