Pakar Unair Ingatkan Ancaman Kredit Macet Akibat Pelemahan Rupiah
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang terus melemah memicu kekhawatiran serius terhadap stabilitas sektor perbankan nasional pada Kamis, 28 Mei 2026. Data Bloomberg menunjukkan mata uang domestik merosot 57 poin atau 0,32 persen ke level Rp17.858 per dolar AS setelah sehari sebelumnya juga turun ke posisi Rp17.827.
Kondisi volatilitas kurs ini dinilai mengancam likuiditas bank, kredit usaha, hingga ketahanan ekonomi masyarakat luas. Dilansir dari suaramerdeka.com, situasi tersebut dapat berdampak langsung pada tingkat kesehatan industri keuangan serta daya tahan ekonomi dalam negeri.
Dosen Perbankan dan Keuangan Fakultas Vokasi Universitas Airlangga, Dr Andi Estetiono, memaparkan tiga risiko besar yang kini membayangi perbankan nasional, yakni masalah likuiditas, risiko pasar, dan potensi lonjakan kredit bermasalah.
“Ketika dolar terus naik, masyarakat cenderung mengamankan asetnya dengan menukar simpanan rupiah menjadi dolar AS atau aset aman lain seperti emas,” ujarnya.
Perilaku proteksi aset oleh publik berisiko mengurangi cadangan valuta asing perbankan akibat penarikan dana secara masif. Andi menekankan perlunya pengawasan ketat terhadap rasio likuiditas valas dan Loan to Deposit Ratio (LDR) valas guna mencegah kecemasan pasar.
Selain masalah likuiditas, institusi perbankan juga dihadapkan pada risiko pasar akibat fluktuasi kurs mata uang yang bergerak tajam.
“Kalau posisi valas bank dalam kondisi net short, kerugian kurs akan langsung memukul laporan laba rugi,” katanya.
Ancaman berikutnya yang dianggap paling krusial adalah potensi kenaikan rasio Non Performing Loan (NPL) atau kredit macet. Risiko gagal bayar ini mengintai para pelaku usaha yang memiliki pinjaman valas namun menghasilkan pendapatan dalam bentuk rupiah, terutama sektor impor.
“Ini berat. Penghasilannya rupiah, tapi cicilannya dolar. Risiko gagal bayar bisa meningkat,” tegas Andi.
Tekanan kurs ini memaksa bank menaikkan suku bunga simpanan demi menahan dana nasabah agar tidak keluar dari sistem keuangan. Langkah mitigasi tersebut berkonsekuensi pada menyusutnya margin keuntungan atau Net Interest Margin perbankan.
“Bank mungkin menaikkan bunga deposito untuk menjaga likuiditas, tetapi bunga kredit tidak mudah langsung dinaikkan. Akibatnya Net Interest Margin menyusut,” jelasnya.
Mengingat dampak sistemis tersebut, Andi meminta pemerintah bersama otoritas keuangan seperti Bank Indonesia, OJK, LPS, dan Kementerian Keuangan dalam KSSK untuk memperkuat koordinasi. Ia berkaca pada pengalaman krisis moneter masa lalu agar stabilitas tetap terjaga.
“Jangan sampai kepanikan terulang seperti 1998,” katanya.
Untuk menghadapi gejolak ekonomi ini, masyarakat diimbau tetap tenang dan memprioritaskan pengelolaan keuangan domestik yang disiplin daripada ikut terjebak dalam kepanikan pasar keuangan.
“Fokus pada kebutuhan, bukan keinginan,” ujarnya.
Diversifikasi aset investasi ke berbagai instrumen aman seperti tabungan, deposito, logam mulia, hingga saham turut disarankan guna meminimalkan risiko kerugian.
“Kita jangan menyimpan semua telur dalam satu keranjang,” katanya.