Pasar Saham Asia Berpotensi Menguat Setelah Kesepakatan Damai AS-Iran
Pasar saham di Asia diproyeksikan mengalami penguatan pada Jumat setelah tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu optimisme pemulihan arus pasokan minyak global, dilansir dari Bloombergtechnoz. Kontrak berjangka indeks saham untuk wilayah Jepang dan Korea Selatan mengindikasikan adanya kenaikan, sementara bursa komoditas mencatat minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) stabil pada perdagangan Jumat pagi setelah pembukaan kembali Selat Hormuz. Kondisi ini terjadi setelah indeks S&P 500 melonjak 1,1 persen dan Nasdaq 100 menguat 2,5 persen pada Kamis, yang diikuti pemulihan obligasi pemerintah AS setelah Ketua Federal Reserve baru Kevin Warsh dinilai kredibel dalam melawan inflasi.
Analis dari BMO Capital Markets memberikan pandangan mengenai dampak positif dari pemulihan pasokan energi di Teluk Persia terhadap pergerakan bursa saham global.
"Kemajuan menuju pemulihan pasokan minyak dari Teluk Persia telah mendukung harga saham," kata Ian Lyngen dari BMO Capital Markets. Menurut dia, penurunan biaya energi turut berdampak langsung pada penurunan imbal hasil obligasi Treasury berjangka panjang.
"Biaya energi yang lebih rendah juga telah meredakan kekhawatiran inflasi ke depan dan menyebabkan penurunan yang berarti pada imbal hasil obligasi Treasury berjangka panjang," kata Ian Lyngen dari BMO Capital Markets. Di sisi lain, pergerakan kebijakan moneter global kini turut dipengaruhi oleh melambatnya laju inflasi yang dipicu dari penurunan harga komoditas energi tersebut.
"Pandangan saya tetap bahwa inflasi akan melambat secara bertahap dalam beberapa bulan mendatang, dan hal ini mungkin memungkinkan The Fed mempertahankan pengaturan kebijakan saat ini daripada melakukan pengetatan tambahan," kata Fawad Razaqzada dari Forex.com. Sementara itu, Bank of England menetapkan untuk mempertahankan suku bunga mereka pada level 3,75 persen akibat perkembangan positif dari penurunan harga minyak.