Pasar Tradisional Sunda di Bandung dan Cimahi Tawarkan Kuliner Jadul Tanpa Uang Kertas

Share

Kawasan Bandung dan Cimahi menyimpan destinasi wisata unik berwujud pasar tradisional Sunda yang mengusung konsep ruang terbuka hijau dan menyatu dengan alam. Pasar-pasar ini menampilkan arsitektur lapak bambu yang bersahaja dengan para pedagang yang mengenakan pakaian adat Sunda serta menerapkan komitmen tinggi untuk bebas dari penggunaan plastik. Uniknya, transaksi di tempat ini tidak menggunakan uang kertas, melainkan wajib memakai alat tukar khusus berupa potongan koin bambu atau koin kayu.

Seperti dilansir dari Detik Travel, terdapat dua destinasi wisata kuliner jadul di Jawa Barat yang menerapkan konsep kembali ke atmosfer tatar Sunda masa lampau tersebut.

Destinasi pertama terletak di Kawasan Ekowisata Cipageran, Jalan Terobosan, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi yang tersembunyi di dalam rimbunnya hutan bambu teduh. Pasar Awi Campernik hanya beroperasi pada hari Minggu di minggu pertama dan ketiga setiap bulan, mulai pukul 07.00 sampai 13.30 WIB.

Pemerintah Daerah Kota Cimahi menggelar pasar ini sebagai upaya mengembangkan serta mempromosikan produk UMKM lokal, khususnya sektor kuliner tradisional, sekaligus menciptakan tujuan wisata baru. Seluruh makanan yang disajikan oleh pelaku UMKM dijamin organik, bebas bahan pengawet, tanpa pewarna kimia, serta tidak menggunakan penyedap rasa berlebihan.

Pengunjung dapat menikmati kudapan tradisional seperti surabi oncom hingga es goyobod segar yang dibuat secara alami dari tepung aci. Masyarakat tidak dikenakan tiket masuk untuk menikmati keindahan hutan bambu ini, namun pengunjung wajib menukarkan uang kertas dengan koin bambu bernama Pernik di saung penukaran. Nilai tukar koin ini meliputi pecahan 5 pernik setara Rp5.000, 10 pernik setara Rp10.000, dan 20 pernik yang bernilai Rp20.000.

Pasar Padaringan di Bandung

Destinasi kedua berada di arah Bandung Timur, tepatnya di Bukit Mbah Garut, Jalan Cilengkrang 1, Cisurupan, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung.

Pasar Padaringan bertengger di kawasan berudara bersih dan beroperasi setiap hari Minggu pada minggu pertama serta ketiga, mulai pukul 07.00 hingga 12.00 WIB. Filosofi ramah lingkungan dipegang teguh di pasar ini dengan melarang penggunaan kantong plastik maupun sterofom untuk membungkus makanan. Berbagai jajanan tradisional seperti awug, leupuet, bandrek, hingga aneka kue basah disajikan langsung menggunakan wadah daun pisang atau anyaman bambu.

Sama seperti di Cimahi, akses masuk ke lokasi ini gratis dan pengunjung menggunakan alat tukar berupa koin kayu atau bambu dengan pecahan senilai ribuan rupiah.

Berdasarkan data Kelompok Sadar Wisata setempat, perputaran ekonomi di Pasar Padaringan menjadi napas baru bagi kesejahteraan warga lokal yang kerap dipadukan dengan pertunjukan seni budaya Sunda.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
daffa-raihan-maulana
Author