Paus Leo XIV Kunjungi Pelabuhan Arguineguin Bahas Krisis Migrasi

Share

Paus Leo XIV mendatangi Pelabuhan Arguineguin di Kepulauan Kanaria, Spanyol, pada Kamis (11/06) untuk menyapa para migran sekaligus mengecam komunitas internasional dan para pemimpin Eropa atas penanganan krisis migrasi, seperti dilansir dari Detikcom.

Kedatangan pemimpin Gereja Katolik tersebut merupakan bagian dari rangkaian kunjungan selama sepekan di Spanyol yang juga melanjutkan fokus perjuangan perlindungan hak-hak migran dari pendahulunya, Paus Fransiskus.

Dalam aksi simbolisnya, Paus Leo XIV melemparkan karangan bunga ke laut guna mengenang ribuan orang yang gugur saat mencoba menyeberang menuju daratan Eropa.

"Jangan sampai sejarah mencatat bahwa kita menganggap penderitaan mereka adalah hal yang biasa di pesisir kita," ujar Paus Leo XIV.

Paus kemudian mendesak pemerintah di negara asal migran untuk meningkatkan kondisi ekonomi dan keamanan, serta meminta negara transit memberikan perlindungan dari jaringan penyelundup manusia.

"Hari ini, di tepi laut ini, setiap orang yang datang bertanya kepada kita: apa yang masih tersisa dari kemানুsiaan kita?" kata Paus Leo XIV.

Kritik paling tajam diarahkan kepada para politisi Eropa yang memperketat kebijakan imigrasi akibat tekanan kelompok sayap kanan, di mana Paus meminta mereka mendengarkan suara hati terkait situasi di Laut Mediterania dan Samudra Atlantik.

"Martabat manusia tidak mengenal paspor, dan tidak kehilangan nilainya hanya karena melintasi perbatasan," ucap Paus Leo XIV.

Di hadapan para migran yang berkumpul di dekat sebuah salib dari kayu kapal karam, Paus secara langsung memberikan penghormatan terhadap perjuangan mereka.

"Saudara-saudari migran, sebelum mengatakan hal lain kepada kalian, saya ingin menundukkan diri di hadapan martabat kalian," tutur Paus Leo XIV.

Paus menegaskan kembali bahwa para pelintas batas tersebut memiliki impian dan bukan sekadar data statistik semata.

"Kalian bukan sekadar angka atau berkas administrasi. Kalian adalah manusia yang telah meninggalkan keluarga dan rumah. Kalian memiliki impian yang tidak seorang pun berhak merendahkannya," kata Paus Leo XIV.

Secara geografis, Kepulauan Kanaria terletak lebih dekat ke Afrika daripada daratan utama Spanyol sehingga menjadi jalur utama migrasi, di mana Pelabuhan Arguineguin sempat dijuluki dermaga rasa malu pada 2020 karena ribuan migran telantar di tenda darurat.

Data menunjukkan lonjakan kedatangan mencapai lebih dari 46.000 orang pada 2024, namun menurun drastis menjadi hanya sekitar 3.000 orang selama lima bulan pertama 2026 setelah adanya kesepakatan antara Uni Eropa, Spanyol, dan negara Afrika Barat.

Berdasarkan data proyek Missing Migrants milik Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM), sekitar 6.600 orang tercatat tewas di jalur Atlantik sejak 2014, sementara kelompok Walking Borders memperkirakan jumlah korban mencapai lebih dari 25.000 orang sejak 2020.

Kunjungan pada Kamis (11/06) tersebut ditandai juga dengan pemasangan papan nama baru yang mengubah sebutan Pelabuhan Arguineguin menjadi dermaga harapan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author