Paus Leo XIV Sambut Baik Rencana Pakta Perdamaian AS dan Iran
Rencana pakta perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mendapatkan respons positif dari pemimpin takhta suci, Paus Leo XIV. Pemimpin umat Katolik tersebut mengekspresikan harapannya agar kesepakatan ini mampu mengakhiri perang yang sedang berlangsung secara permanen, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz pada Rabu (17/6). "Masih ada beberapa poin yang harus diselesaikan, namun selalu jauh lebih baik menyelesaikannya melalui dialog dan negosiasi daripada kembali ke situasi perang," ujar Sang Paus pada hari Selasa (16/6) saat berbicara kepada para jurnalis dari kediaman musim panasnya di Castel Gandolfo, dekat kota Roma.
Saat ini, kedua belah pihak tengah bersiap untuk menandatangani pakta damai sementara secara fisik di Swiss pada hari Jumat pekan ini. Kendati demikian, sejumlah pertanyaan masih membayangi terkait seberapa cepat jalur logistik strategis Selat Hormuz akan dibuka kembali untuk umum.
"kita dapat bergerak maju demi kebaikan yang lebih besar. Termasuk di antaranya menghapuskan senjata nuklir, mengupayakan kesejahteraan bagi semua bangsa, serta mencari jalan keluar untuk menyelesaikan berbagai masalah ekonomi dan sosial yang timbul akibat dampak buruk konflik ini," harap Paus Leo XIV setelah penandatanganan tersebut dilakukan.
Sikap vokal dari pemimpin tertinggi takhta suci kelahiran Chicago ini memang berulang kali memicu pro dan kontra. Sejak terpilih setahun lalu, kekhawatirannya terhadap konflik global, khususnya perang AS di Iran, sempat menuai kritik tajam dari Presiden AS Donald Trump, meskipun mendapat dukungan kuat dari Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni. Perselisihan pandangan antara Trump dan Meloni terkait sikap Paus akhirnya berhasil diredakan. Kedua pemimpin negara tersebut dilaporkan telah menyelesaikan perbedaan mereka melalui sebuah pertemuan singkat di sela-sela KTT G-7 di Evian, Prancis, pekan ini.
Sebelumnya, Paus Leo XIV sempat melontarkan kritik keras terhadap retorika militer para pejabat AS. Ia menyebut ancaman Trump untuk menghancurkan peradaban Iran sebagai tindakan yang "benar-benar tidak dapat diterima", menyanggah klaim Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth terkait agresi militer, serta menolak teori "perang yang adil" dari Wakil Presiden AS JD Vance.