PBB Peringatkan Suhu Rata-Rata Global Berpotensi Cetak Rekor Baru

Share

Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa suhu rata-rata global berpotensi mencapai rekor baru dalam lima tahun ke depan. Dikutip dari Detikcom, World Meteorological Organization (WMO) menyebut suhu tahunan rerata pada periode 2026 hingga 2030 diperkirakan berada pada kisaran 1,3 hingga 1,9 derajat Celsius di atas rata-rata suhu periode 1850-1900.

Dalam laporan tersebut, terdapat peluang sebesar 75% bahwa suhu rata-rata global akan melampaui 1,5 derajat Celsius di atas rerata periode 1850-1900. Ambang itu merupakan batas pemanasan jangka panjang yang disepakati dalam Perjanjian Paris 2015.

Meski demikian, para ilmuwan menilai kemungkinan suhu global melampaui 2 derajat Celsius di atas tingkat pra industri masih "sangat kecil." Rekor suhu panas pada 2024 juga diperkirakan kemungkinan besar akan terlampaui.

"Besar kemungkinan, yakni 86%, bahwa satu tahun antara 2026 dan 2030 akan melampaui 2024 sebagai tahun terpanas yang pernah tercatat," bunyi laporan WMO.

Suhu di wilayah Arktika selama lima musim dingin mendatang juga diprediksi mencapai 2,8 derajat Celsius di atas rata-rata periode 1991-2020. Sementara itu, Eropa Utara diperkirakan mengalami musim dingin yang lebih basah yang meningkatkan risiko banjir.

WMO menyatakan suhu rata-rata di kawasan Pasifik tropis bagian tengah menunjukkan potensi munculnya kondisi El Nino, terutama pada 2027 dan 2028. Fenomena ini diprediksi memicu lonjakan suhu global yang lebih tinggi.

"Ada prediksi El Nino pada akhir 2026 yang meningkatkan kemungkinan 2027 menjadi tahun berikutnya yang memecahkan rekor panas," kata Leon Hermanson.

El Nino merupakan fenomena anomali iklim global yang ditandai meningkatnya suhu permukaan laut di Samudra Pasifik dekat khatulistiwa sehingga mempengaruhi pola cuaca global. Fenomena terakhir berkontribusi menjadikan 2024 sebagai tahun terpanas sepanjang sejarah dengan suhu sekitar 1,55 derajat Celsius di atas rata-rata pra industri.

Kondisi El Nino di Wilayah Indonesia

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena El Nino di Indonesia akan mulai aktif pada Juni 2026. Kondisi cuaca ini diperkirakan berlangsung hingga sekitar Maret sampai Mei 2027.

"El Nino yang akan melanda Indonesia memiliki intensitas moderat hingga kuat," ujar Teuku Faisal Fatani.

Teuku Faisal Fatani melanjutkan bahwa El Nino terjadi secara berkala setiap tiga hingga tujuh tahun sekali. Hal tersebut membuat banyak negara terus memantau pergerakan fenomena ini.

Mengantisipasi dampak cuaca ekstrem ini, Menteri Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat menyatakan pihaknya telah mendapat banyak laporan terkait kendala mitigasi kebakaran hutan di Indonesia. Kementerian Lingkungan Hidup berkomitmen menyempurnakan langkah pencegahan.

"Pihaknya mendapat sejumlah laporan soal kendala dalam mitigasi karhutla. Oleh karena itu, dia berjanji akan berupaya mengatasi sejumlah kendala tersebut agar mitigasi menjadi lebih maksimal," kata Mohammad Jumhur Hidayat.

Peningkatan suhu laut berpotensi memicu El Nino yang kuat pada 2026 hingga 2027. Kondisi tersebut menegaskan ancaman hadirnya rekor suhu panas baru di berbagai belahan dunia.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
hendra-kurniawan-saputra
Author