Pelabuhan Tanjung Priok Amankan Rantai Pasok Nasional Selama 24 Jam

Share

Aktivitas logistik di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, terus bergerak tanpa henti guna menjaga kelancaran rantai pasok nasional. Dermaga tersibuk di Indonesia ini beroperasi penuh untuk memastikan pemenuhan kebutuhan industri dan masyarakat tetap terpenuhi.

Seperti dilansir dari Bloombergtechnoz, operasional di terminal nonpetikemas Pelabuhan Tanjung Priok berjalan nonstop dengan sistem kerja bergiliran. Langkah ini diambil untuk menjamin proses bongkar muat barang komoditas strategis tidak terganggu.

“Aktivitas operasional di terminal nonpetikemas berlangsung selama 24 jam penuh dengan sistem kerja bergiliran (shift) untuk memastikan seluruh proses bongkar muat berjalan tanpa henti,” ujar Fiona Sari Utami, Sekretaris Perusahaan PTP Nonpetikemas Tanjung Priok.

Manajemen menjelaskan bahwa koordinasi antara petugas, operator alat berat, hingga tenaga kerja bongkar muat menjadi kunci utama. Namun, dinamika di lapangan sering kali menghadapi tantangan cuaca dan perubahan jadwal kapal.

“Oleh karena itu, kesiapan personel, peralatan, dan sistem monitoring menjadi faktor penting dalam menjaga kelancaran layanan,” tutur dia.

“Sebagai pelabuhan terbesar di Indonesia, Tanjung Priok menjadi pintu masuk dan keluar berbagai kebutuhan industri dan perdagangan domestik maupun internasional.”

Kepadatan di pelabuhan biasanya meningkat signifikan menjelang Hari Raya Besar Keagamaan (HKBN), akhir tahun, serta saat terjadi lonjakan aktivitas ekspor-impor. Kedatangan kapal yang bersamaan menuntut efisiensi waktu yang tinggi.

Keterlambatan pada proses bongkar muat dapat memicu kenaikan biaya logistik dan mengganggu jadwal pelayaran. Kondisi tersebut berpotensi menghambat distribusi bahan baku untuk sektor industri.

“Karena itu, pengelolaan waktu operasional dan koordinasi antar pihak menjadi sangat penting agar proses bongkar muat berjalan efektif dan tepat waktu,” kata dia.

“Seluruh pihak tersebut harus bergerak selaras agar proses pelayanan kapal dan barang dapat berjalan tepat waktu serta mendukung rantai pasok nasional,” kata dia.

Kontribusi Finansial dan Realisasi Kinerja PTP

Arus logistik di Pelabuhan Tanjung Priok memberikan kontribusi besar terhadap pendapatan holding perusahaan. Porsinya mencapai lebih dari separuh atau sekitar 58% dari total konsolidasi pendapatan.

Pada segmen General Cargo, PTP Nonpetikemas Cabang Tanjung Priok mencatatkan realisasi produktivitas Ton/Ship/Day (TSD) sebesar 4.024. Angka ini mencapai 130% dari target awal yang ditetapkan sebesar 3.097 TSD.

Selain itu, throughput layanan multi terminal Cabang Tanjung Priok mencapai 4,03 juta ton/m³ pada Triwulan I Tahun 2026. Jumlah tersebut setara dengan 14% dari total throughput grup yang mencapai 27,64 juta ton/m³.

Pencapaian ini tumbuh 6% secara tahunan dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang berada di angka 4.03 juta ton. Pertumbuhan tersebut didominasi oleh komoditas curah kering sebesar 1,41 juta ton.

Kenaikan Impor Nonmigas Nasional

Di sisi lain, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor Indonesia pada Januari hingga Maret 2026 menembus US$61,30 miar. Nilai tersebut mengalami peningkatan sebesar 10,5% secara tahunan.

Kenaikan impor didorong oleh kebutuhan bahan baku penolong industri, di mana impor nonmigas tumbuh 12,16%. Lonjakan tertinggi terjadi pada impor mesin dan peralatan mekanis yang tumbuh 22,10% menjadi US$9,44 miar.

Komoditas nonpetikemas yang ditangani pelabuhan ini meliputi gandum, bungkil, pupuk, besi baja, hingga kargo proyek. Seluruh komoditas tersebut merupakan komponen penting dalam rantai pasok industri.

“Porsi arus logistik melalui kawasan Tanjung Priok secara keseluruhan mencapai lebih dari separuh aktivitas pelabuhan nasional, sehingga kelancaran operasional di terminal nonpetikemas turut berpengaruh terhadap rantai pasok di berbagai sektor industri.”

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
farhan-dwi-ramadhan
Author