Pembangunan Pusat Data Kecerdasan Buatan Picu Krisis Air dan Energi Global
Pembangunan masif pusat data untuk mendukung infrastruktur kecerdasan buatan (AI) oleh perusahaan teknologi global memicu ancaman serius terhadap pasokan air bersih dan stabilitas jaringan energi di berbagai belahan dunia.
Laporan investigasi terbaru dari para ilmuwan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa konsumsi air oleh sektor AI pada tahun 2030 diproyeksikan bakal setara dengan kebutuhan 1,3 miliar orang. Selain itu, kebutuhan daya listriknya diperkirakan melonjak hingga tiga kali lipat dari total konsumsi gabungan negara Pakistan, Bangladesh, dan Nigeria yang berpenduduk 650 juta jiwa.
Direktur Institut Air, Lingkungan, dan Kesehatan Universitas PBB, Kaveh Madani, menjelaskan bahwa teknologi digital memiliki infrastruktur fisik dan rantai pasok material yang berdampak nyata terhadap ekologi.
"Most people understand AI as a digital technology, as a virtual thing, as something that is in the clouds," kata Kaveh Madani, Direktur Institut Air, Lingkungan, dan Kesehatan Universitas PBB.
Menurut Madani, operasional harian peralatan AI membutuhkan energi luar biasa besar yang tidak hanya meninggalkan jejak karbon, tetapi juga jejak air dan tanah di tingkat lokal.
"What we tried to do in this report was to remind people that there’s some physics to all of this." kata Kaveh Madani, Direktur Institut Air, Lingkungan, dan Kesehatan Universitas PBB.
Analisis data dari firma Cleanview dan pemerintah federal Amerika Serikat yang dilansir oleh The Guardian pada Senin, 8 Juni 2026, memperkuat kekhawatiran tersebut. Riset menunjukkan bahwa sekitar dua pertiga atau sebanyak 517 dari 809 pusat data baru di Amerika Serikat direncanakan dibangun di wilayah-wilayah yang sedang dilanda kekeringan parah selama setahun terakhir.
Pakar hukum sumber daya air dari Tulane University, Christopher Dalbom, menilai lonjakan permintaan air di tengah kondisi krisis iklim ini akan membawa masyarakat pada titik kritis.
"The AI industry is sprinting as fast as it can to gain market dominance, and the rest of us have to deal with a great increase in water demand in places already in drought," ujar Christopher Dalbom, Pakar Hukum Sumber Daya Air Tulane University.
Dalbom mempertanyakan kebijakan prioritas alokasi air jika kelangkaan pasokan benar-benar terjadi antara kebutuhan penduduk lokal dan operasional pusat data.
"Even if there wasn’t climate change, we’d be feeling the effects of droughts more acutely, because water demand is going up and up, to feed more people and water more lawns and crops. There isn’t enough water to go around. Now with this explosion of datacenters, I think a crunch point is inevitable." ujar Christopher Dalbom, Pakar Hukum Sumber Daya Air Tulane University.
Dampak penambahan beban listrik yang masif juga menjadi perhatian di tingkat regional. Profesor Departemen Teknik Sipil, Lingkungan, dan Arsitektur CU Boulder, Kyri Baker, menyatakan kekhawatirannya terhadap keandalan jaringan listrik di wilayah Colorado.
"But my main worry in Colorado would probably be related to the blackouts and reliability, just from something that we haven’t dealt with on the scale yet," kata Dr. Kyri Baker, Profesor CU Boulder.
Baker menambahkan bahwa sistem distribusi saat ini sudah terbebani oleh kegagalan komponen transformator seiring meningkatnya penggunaan AC dan kendaraan listrik.
"So we are experiencing aging components. Transformers are failing. People are installing more air conditioners and electric vehicles, which are straining the distribution grid." kata Dr. Kyri Baker, Profesor CU Boulder.
Di tengah gelombang kritik, sejumlah perusahaan teknologi mulai mengeluarkan komitmen pengelolaan air. Google menargetkan untuk memulihkan lebih banyak air daripada yang mereka konsumsi di lokasi operasionalnya pada tahun 2030, sementara Amazon Web Services (AWS) mengklaim program "water positive" mereka telah mencapai target 75 persen.
Direktur Energi dan Air AWS, Brandon Oyer, mengakui bahwa pihak industri seharusnya bertindak lebih cepat dalam mengomunikasikan penggunaan air demi meredam kekhawatiran masyarakat.
"There’s just been a lot of misinformation that has led people to [be] a little bit alarmist. And rightfully so. I would get alarmed if I thought that water was going to be impacted in my community," kata Brandon Oyer, Direktur Energi dan Air Amazon Web Services.
Di sisi lain, penolakan dari komunitas lokal dan para peternak di wilayah pedesaan terus bermunculan akibat kekhawatiran ketimpangan akses sumber daya alam.
Chief Executive Ranchbot, Andrew Coppin, mengungkapkan rasa ketidakadilan yang dirasakan para peternak lokal yang selama ini diminta menghemat air, sementara pusat data baru mendapatkan akses yang hampir tanpa batas.
"The concerns from farmers are real and justified. Datacenters are flavor of the month now, but we wouldn’t make the choice to only be able to have a shower on Mondays, Wednesdays and Saturdays. I mean, ChatGPT is a pretty nice tool, but most people would prefer to have a beef steak if they had to choose." kata Andrew Coppin, Chief Executive Ranchbot.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Presiden Kebijakan Negara Data Center Coalition, Dan Diorio, menegaskan bahwa operator pusat data selalu mematuhi regulasi lokal dan aktif berinvestasi dalam perbaikan infrastruktur air masyarakat.
"Datacenter operators work closely with local authorities to ensure compliance with all applicable rules and regulations and to ensure operations do not stress local water supplies," kata Dan Diorio, Wakil Presiden Kebijakan Negara Data Center Coalition.
Diorio menambahkan bahwa industri saat ini memprioritaskan penggunaan air yang bertanggung jawab melalui strategi pengembangan inovatif dan proyek reklamasi air.
"The industry is actively prioritizing responsible water use through operational best practices and innovative development strategies, often collaborating with local authorities and conservation organizations on water restoration and reclamation projects. Datacenter operators are among the few private sector industries actively investing in local water infrastructure." kata Dan Diorio, Wakil Presiden Kebijakan Negara Data Center Coalition.
Sementara itu, warga yang tinggal di sekitar lokasi proyek pusat data Colorado Springs, Melissa Hills, menyatakan terus berupaya mencari informasi untuk memastikan proyek tersebut ramah lingkungan.
"How can we make this so that it works well with the community in the best possible way?" kata Melissa Hills, Warga Colorado Springs.
Hills berharap proyek infrastruktur teknologi ini dapat berjalan selaras dengan kepentingan lingkungan masyarakat setempat.
"How can we make this as eco-friendly as possible?" kata Melissa Hills, Warga Colorado Springs.
Pihak perusahaan pengembang Raeden menyatakan bahwa fasilitas di Colorado Springs tersebut akan menggunakan sistem pendingin siklus tertutup (closed-loop system) guna membatasi jumlah volume air yang digunakan serta membangun penghalang suara untuk mengurangi polusi kebisingan.