Pemerintah Bangladesh Tegaskan Belum Ada Keputusan Kunjungan ke India
Pemerintah Bangladesh menegaskan belum menetapkan keputusan mengenai rencana kunjungan Perdana Menteri Tarique Rahman ke India pada Jumat (21/8/2026), meski media massa India melaporkan agenda melawat ke New Delhi tersebut dijadwalkan berlangsung pada 23 hingga 25 Agustus 2026.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah proses pembicaraan bilateral yang telah berlangsung selama beberapa pekan antara kedua negara untuk memperbaiki hubungan diplomatik. Hubungan Dhaka dan New Delhi meregang pascadilengserkannya mantan Perdana Menteri Sheikh Hasina pada Agustus 2024 akibat gelombang demonstrasi mahasiswa.
Hasina melarikan diri ke India dan menetap di sana dalam pengasingan. Pemerintah Bangladesh berulang kali mengajukan permohonan ekstradisi terhadap Hasina, sementara pihak New Delhi menyatakan masih mempelajari permintaan resmi tersebut.
Juru Bicaranya, A A M Saleh, mengonfirmasi mengenai status rencana kunjungan pemimpin pemerintahan Bangladesh tersebut kepada Reuters.
"Belum ada keputusan yang dibuat terkait kunjungan tersebut," kata Saleh, Sekretaris Pers Perdana Menteri Bangladesh Tarique Rahman.
Saleh menambahkan bahwa pihak Dhaka masih menunggu tanggapan resmi dari New Delhi terkait permohonan ekstradisi Hasina beserta para pelaku kejahatan yang melarikan diri lainnya.
Di sisi lain, Pemerintah India menyampaikan bahwa belum ada informasi resmi yang dapat dipublikasikan mengenai kepastian jadwal agenda diplomatik tersebut.
"Kementerian Luar Negeri tidak memiliki komentar untuk disampaikan mengenai kunjungan tersebut," ujar Randhir Jaiswal, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri India.
Sementara itu, insiden tak biasa terjadi di lingkungan istana kepresidenan India pada hari Jumat. Rashtrapati Bhavan sempat menerbitkan rilis pers pada pukul 14.00 waktu setempat yang mengumumkan pembatalan Upacara Pergantian Pengawal pada Sabtu (22/8/2026) guna persiapan gladi bersih penyambutan Perdana Menteri Bangladesh.
Namun, kurang dari satu jam kemudian, Kantor Presiden India menarik kembali rilis tersebut melalui pernyataan baru pada pukul 15.00 waktu setempat.
"Siaran pers yang dikeluarkan dengan subjek 'Tidak Ada Upacara Pergantian Pengawal Sabtu Ini', yang dikeluarkan pada 21 Agustus 2026, ditarik kembali," tulis pernyataan resmi Kantor Presiden India.
Sebelumnya, ketidakpastian kunjungan kerja ini juga diwarnai oleh pernyataan Komisioner Tinggi India untuk Bangladesh, Dinesh Trivedi, dalam acara resepsi bersama para pemimpin bisnis Bangladesh dan delegasi Confederation of Indian Industry (CII) di Dhaka pada Selasa (18/8/2026).
Trivedi menyampaikan pesan khusus dari Perdana Menteri Narendra Modi mengenai rencana pertemuan kedua kepala pemerintahan tersebut.
"Perdana Menteri Modi hanya menyebutkan satu hal. Kita perlu bertemu. Dan Anda dapat menyampaikan kepada mereka atas nama saya bahwa Anda mendapatkan jaminan dari Perdana Menteri India bahwa ketika Perdana Menteri Bangladesh yang terhormat mengunjungi India, beliau akan mendapatkan penyambutan terhormat sebagaimana mestinya," kata Dinesh Trivedi, Komisioner Tinggi India untuk Bangladesh.
Trivedi menegaskan bahwa pemimpin India menginginkan agar lawatan Perdana Menteri Bangladesh tersebut dapat mempererat hubungan antarnegara.
"Perdana Menteri Modi menginginkan kunjungan Tuan Rahman menjadi 'berkesan'," ujar Trivedi.
Ia menambahkan bahwa penguatan hubungan kedua pemimpin pada akhirnya akan memberikan dampak positif bagi perekonomian serta masyarakat di kedua belah pihak.
"Pada akhirnya, manfaatnya akan dirasakan oleh masyarakat dan dunia usaha. Pelaku bisnis di seluruh dunia memiliki peran besar untuk menjembatani kesenjangan ini," tutur Trivedi.
Trivedi mengimbau agar kedua negara tetangga tersebut dapat menyelesaikan persoalan masa lalu tanpa menghentikan kerja sama strategis ke depan.
"Saya tidak mengatakan bahwa Anda harus melupakan masa lalu, tetapi pertahankan masa lalu dan selesaikan perbedaan masa lalu. Namun tetaplah melangkah maju. Jangan stagnan," kata Trivedi.
Ia menilai perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar dalam dinamika hubungan antarnegara demokrasi dan dapat diselesaikan melalui dialog terbuka.
"Kita sangat memahami kekhawatiran saudara-saudari di Bangladesh. Tentu saja ada kekhawatiran. Namun ini adalah kemitraan antarpihak yang setara," ucap Trivedi.
Diplomat India tersebut juga menekankan pentingnya membangun fondasi hubungan diplomatik yang berlandaskan kepercayaan.
"Fondasi dari setiap hubungan yang tahan lama adalah rasa saling percaya yang tanpa syarat," kata Trivedi.
Merujuk pada kebijakan luar negeri India, Trivedi mengutarakan bahwa kerikil dalam hubungan diplomatik tidak boleh merusak hubungan bilateral yang lebih luas.
"Kita memiliki sejarah yang sama, kita memiliki budaya yang sama, dan di sinilah kita perlu membinanya," ujar Trivedi.
Trivedi turut menyoroti peran generasi muda dalam pembangunan Bangladesh baru pascakrisis politik.
"Ini adalah Bangladesh baru. Dan Bangladesh baru ini memiliki pemuda. Pemuda juga telah melalui banyak perjuangan dan banyak pengorbanan. Jadi tujuan kita tentunya adalah untuk memiliki perdamaian dan kemakmuran dan pemuda harus mendapatkan kesempatan itu," kata Trivedi.
Ia mengingatkan kembali keterikatan historis yang melandasi hubungan kedua bangsa di Asia Selatan tersebut.
"Kami tidak hanya berbagi perbatasan, kami berbagi impian, kami berbagi aspirasi dan kesetaraan," tutur Trivedi.
Hubungan diplomatik Dhaka dan New Delhi sempat kembali memanas setelah Sheikh Hasina melakukan wawancara media secara virtual dari New Delhi pada 5 Agustus 2026. Pemerintah Bangladesh mengecam acara tersebut karena dinilai melukai perasaan rakyatnya, sementara Kementerian Luar Negeri India menegaskan tidak terlibat dan tidak mendukung isi pernyataan Hasina dalam forum tersebut.