Pemerintah Siapkan Paket Stimulus Ekonomi Baru untuk Kuartal Ketiga
Pemerintah Indonesia tengah menyiapkan paket stimulus ekonomi baru yang dijadwalkan akan diumumkan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto pada Senin (22/6/2026) mendatang. Langkah penyiapan insentif ini ditujukan untuk menjaga dan mendorong laju pertumbuhan ekonomi nasional agar tetap berada di jalur positif.
Peluncuran paket kebijakan tersebut menjadi langkah nyata dalam menindaklanjuti instruksi Presiden Prabowo Subianto, seperti dilansir dari Detik Finance. Kepala Negara menghendaki agar performa perekonomian domestik dapat dipertahankan, bahkan melampaui capaian yang telah diraih pada kuartal pertama tahun 2026.
Upaya mengejar target pertumbuhan yang maksimal ini dibenarkan oleh pihak Kementerian Koordinator Perekonomian dalam pertemuan di Jakarta pada Jumat (19/6/2026). Upaya menjaga daya beli dan aktivitas ekonomi masyarakat terus dioptimalkan melalui kelanjutan sejumlah program insentif.
"Jadi, Pak presiden kan tetap minta kita kalau bisa di atas kuartal I, nah ini yang kita harus kejar terus. Kemarin kan beberapa stimulus quarter II kan sudah kita keluarkan. Mungkin Pak Menko nanti hari Senin akan menyampaikan stimulus di kuartal III dan berikutnya," ujar Sekretaris Kementerian Koordinator Perekonomian Susiwijono Moegiarso.
Susiwijono Moegiarso menjelaskan bahwa pemerintah mempersiapkan stimulus dari dua sisi, yakni permintaan dan penawaran. Pada sisi permintaan, stimulus diwujudkan melalui pemberian bantuan pangan dan beragam insentif fiskal, sedangkan dari sisi penawaran mencakup rencana perpanjangan fasilitas PPN Ditanggung Pemerintah (DTP) serta pemotongan tarif transportasi menyambut musim liburan sekolah.
"Karena sudah mulai musim liburan, dari sisi supply kita minta juga ada penurunan harga melalui diskon transportasi seperti biasa. Nanti akan diumumkan Pak Menko," ujar Susiwijono Moegiarso.
Faktor eksternal berupa perbaikan situasi global juga diproyeksikan akan ikut memberikan dampak positif bagi pemulihan ekonomi nasional. Meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran dinilai memicu penurunan harga minyak dunia, ditambah dengan kelancaran jalur logistik setelah dibukanya kembali Selat Hormuz.
"Amerika dengan Iran sudah mulai signing untuk damai kan. Otomatis pasti pengaruhnya bersekali harga minyak oil and gasnya juga pasti akan mulai menyesuaikan, turun. Kemudian berbagai kendala logistik supply chain dengan Selat Hormuz dibuka juga pasti akan, mungkin bagus lah," tutur Susiwijono Moegiarso.