Pemkab Cilacap Lirik Batako FABA Buatan Narapidana Nusakambangan

Share

Pemerintah Kabupaten Cilacap melirik batako fly ash bottom ash (FABA) hasil produksi narapidana di Pulau Nusakambangan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, untuk dijadikan material proyek pembangunan daerah pada Sabtu (20/6/2026).

Langkah ini diambil karena material berbahan limbah batu bara tersebut dinilai memiliki kekuatan lebih unggul namun dengan harga yang lebih ekonomis, seperti dilansir dari Detikcom.

"FABA itu hasil dari limbah batu bara yang dipadatkan menjadi paving, itu kekuatannya lebih kuat daripada bata merah sama batako. Kualitasnya jauh lebih bagus. Jadi kalau nggak salah, sepertinya sudah dipasarkan untuk pembangunan di PIK deh. Tentu saja, tentu saja kami sudah melirik produk FABA," kata Plt Bupati Cilacap Ammy Amalia Fatma (AAF).

Minat pemerintah daerah didukung oleh efisiensi biaya produksi di workshop Nusakambangan karena memberdayakan warga binaan yang sedang dibekali keterampilan oleh Ditjenpas Kemenimipas, sehingga menekan biaya operasional upah.

"Jadi kayak misalkan produksi FABA itu, dia bisa jual lebih murah dibandingkan dengan pabrikan batako-batako biasa. Karena pabrik-pabrik batako lainnya kan membayar upah pekerja, kalau di sini kan nnggak banyak biaya karena yang dipekerjakan semua warga binaan. Nah, kelebihannya di situ," jelas Ammy Amalia Fatma.

Kebutuhan material ini juga berkaitan dengan langkah Pemerintah Kabupaten Cilacap yang sedang menyusun ulang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) pada tahun 2026 untuk ditargetkan rampung penataannya pada beberapa tahun ke depan.

"Kita kebetulan tahun 2026 ini pas, kita harus mereview kembali tata ruang wilayah, dan penetapannya di 2027. Target saya di 2028 itu di wilayah perkotaan Cilacap itu sudah tidak ada sawah lagi, di perkotaannya ya," terang Ammy Amalia Fatma.

Penataan ulang kawasan perkotaan tersebut diarahkan untuk menjadi pusat komersial, pusat industri, sekaligus area pemukiman baru yang membutuhkan pasokan material bangunan dalam jumlah besar.

"Nah, ini mungkin kita tata ulang, supaya di perkotaan itu menjadi pusat komersial dan pusat industri, beserta pemukiman. Tentu pasti akan sangat membutuhkan FABA itu tadi," pungkas Ammy Amalia Fatma.

Produksi material ini berpusat di workshop batako dan paving block FABA Nusakambangan yang berdiri di atas lahan seluas lebih dari 11.250 meter persegi dengan dukungan dua mesin cetak otomatis dan manual.

Aktivitas produksi harian melibatkan 20 narapidana dari Lapas Nirbaya yang mampu menghasilkan sebanyak 2.000 buah paving block dan 480 buah batako per hari, dengan total capaian saat ini telah memproduksi 44.700 buah dari total pesanan 50.500 buah.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
annisa-nur-fadhilah
Author