Pemprov Jabar Perbaiki Dinding Penahan Tanah Kebon Pedes Bogor

Share

Pemerintah Provinsi Jawa Barat mulai memperbaiki Dinding Penahan Tanah sepanjang 12 meter dan tinggi 8 meter yang longsor di Jalan Raya Kebon Pedes, Tanah Sareal, Kota Bogor. Proyek pemulihan infrastruktur jalan yang tergerus tersebut menelan anggaran hingga Rp 5,4 miliar. Dilansir dari Detikcom, pengerjaan fisik di lapangan segera berjalan setelah penyerahan lokasi proyek dilakukan pada Kamis (18/6/2026).

Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang (DBMPR) Provinsi Jawa Barat memimpin langsung proyek yang ditargetkan selesai dalam waktu 150 hari kalender ini, mengingat status jalan merupakan wewenang pemerintah provinsi. "Setelah hari ini serah terima lokasi pekerjaan, langsung siap digarap. Alhamdulillah, segala sesuatu memang perlu proses, karena anggarannya harus dipikirkan dan nilainya cukup besar, sekitar Rp 5,4 miliar," kata Wali Kota Bogor Dedie Rachim.

Sebelum perbaikan permanen ini bergulir, Pemerintah Kota Bogor telah menginisiasi langkah kedaruratan melalui BPBD Kota Bogor beserta jajaran dinas terkait. Jalur ini menjadi prioritas penanganan karena statusnya sebagai akses utama mobilitas warga lokal.

"Ruas Jalan Kebon Pedes merupakan jalan yang berada di bawah kewenangan Pemprov Jabar. Proyek perbaikan ini ditargetkan rampung dalam waktu 150 hari kalender," kata Dedie Rachim. Dinas perhubungan setempat juga menerapkan rekayasa lalu lintas di sekitar area pengerjaan guna mengurai potensi kepadatan. Pengaturan arus kendaraan tersebut diberlakukan secara fleksibel menyesuaikan kondisi di lapangan.

"Ruas Jalan Kebon Pedes merupakan jalur padat yang sering dilintasi warga, terutama di pagi dan sore hari. Rekayasa dilakukan secara situasional selama proses pengerjaan," kata Dedie Rachim. Peristiwa ambrolnya struktur pembatas tanah ini diketahui terjadi pada 29 Januari lalu. Insiden tersebut sempat mengganggu kelancaran lalu lintas setelah sebagian badan jalan terkikis akibat pergerakan tanah.

"Longsor yang terjadi ini disebabkan oleh berbagai faktor. Salah satunya adalah banyaknya masyarakat yang membuang sampah ke aliran sungai, sehingga menyebabkan penumpukan sampah yang berdampak pada tersumbatnya aliran air," kata Dedie Rachim. Penyumbatan arus air sungai itu memicu tekanan hidrostatik yang melebihi kapasitas beban tahanan dinding.

Faktor kelalaian manusia dalam menjaga kebersihan lingkungan dituding menjadi pemicu utama kerusakan struktur tersebut. "Akibatnya, beban pada dinding menjadi besar dan akhirnya ambrol. Jadi memang kebiasaan membuang sampah sembarangan ini harus segera dihilangkan," kata Dedie Rachim.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
farhan-dwi-ramadhan
Author