Pemerintah Mulai Pemulihan Permanen Pascabencana di Tiga Provinsi
Pemerintah memulai fase pemulihan permanen pascabencana hidrometeorologi di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat melalui program rehabilitasi dan rekonstruksi yang dijadwalkan berlangsung secara bertahap hingga tahun 2028.
Langkah penanganan pascabencana tersebut dilakukan setelah wilayah terdampak menyelesaikan tahapan tanggap darurat serta masa transisi, sebagaimana dilansir dari Detikcom.
Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera Muhammad Tito Karnavian mengonfirmasi bahwa penanggulangan bencana ini berjalan melalui tiga tahapan utama, yakni tanggap darurat, transisi, dan pemulihan permanen.
Fase tanggap darurat yang berjalan pascabencana berhasil diselesaikan melalui kerja sama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta berbagai kementerian dan lembaga terkait, menyusul koordinasi bersama Satgas Galapana DPR RI di Jakarta, beberapa waktu lalu.
"Tahapan pertama setelah ada bencana adalah tanggap darurat. Itu langsung komando dari Bapak Presiden, semua kementerian/lembaga bergerak, pemerintah daerah semua bergerak dan itu termitigasi dengan cukup baik," kata Muhammad Tito Karnavian, Ketua Satgas PRR Pascabencana Sumatera dalam keterangan tertulis, Kamis (28/5/2026).
Koordinasi lintas sektor terus berjalan untuk mengawal fase transisi sejak pembentukan Satgas PRR pada 8 Januari lalu. Pemulihan sejumlah layanan dasar yang sempat terganggu dilaporkan hampir selesai sepenuhnya, meliputi sektor pemerintahan daerah, pasokan listrik, distribusi BBM, jaringan internet, hingga fasilitas kesehatan.
Mobilitas warga juga kembali berjalan seiring terhubungnya kembali seluruh jalan nasional dan berfungsinya jembatan nasional, baik lewat pembangunan permanen maupun pemasangan solusi temporer seperti jembatan Bailey, Armco, jembatan perintis, dan jembatan gantung.
"Jembatan nasional juga baik, terhubung, meskipun temporer. Ada yang menggunakan Bailey, jembatan perintis, Armco, dan jembatan gantung, tapi fungsional untuk mobilitas," jelas Muhammad Tito Karnavian, Ketua Satgas PRR Pascabencana Sumatera.
Sektor pendidikan dan pemukiman juga menunjukkan perkembangan positif dengan kembalinya mayoritas siswa dari 4.922 sekolah terdampak untuk belajar di gedung sekolah masing-masing pascaperbaikan, sementara jumlah pengungsi di tenda darurat terus mengalami penurunan.
Fokus kerja pemerintah kini beralih sepenuhnya pada fase pemulihan permanen yang mengacu pada dokumen Rencana Induk (Renduk) percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi hasil konsolidasi usulan daerah, kementerian, lembaga, serta Kementerian PPN/Bappenas.
"Sekarang kita akan melakukan proses menuju pemulihan permanen. Dari tiga tahapan itu, tanggap darurat, transisi, kemudian kita masuk masa menuju permanen, kita namakan rehab-rekon, dan ini kuncinya adalah Renduk," jelas Muhammad Tito Karnavian, Ketua Satgas PRR Pascabencana Sumatera.
Prioritas pembangunan pada tahun pertama difokuskan pada pemulihan infrastruktur dasar dan percepatan penyediaan hunian tetap guna mengurangi durasi tinggal warga di hunian sementara.
"Renduk pemulihan itu dirancang untuk periode 2026-2028 dengan cakupan 11.512 kegiatan lintas sektor, mulai dari pembangunan infrastruktur sungai, jalan, jembatan, sekolah, hingga hunian tetap," kata Muhammad Tito Karnavian, Ketua Satgas PRR Pascabencana Sumatera.