Penderita Kolesterol Tinggi Berisiko Alami Stroke Tanpa Gejala
Prevalensi kolesterol tinggi di Indonesia mencapai 28,8 persen dari populasi dewasa menurut data Riset Kesehatan Dasar, yang berpotensi memicu komplikasi fatal seperti serangan jantung dan stroke tanpa gejala awal.
Kondisi dislipidemia atau kadar lipid darah abnormal sering kali tidak menunjukkan keluhan fisik, sehingga penderitanya tidak menyadari potensi penyumbatan pembuluh darah hingga terjadi serangan akut.
Pengalaman tersebut dialami oleh seorang warga Ba Vi, Hanoi, bernama D.TQ berusia 71 tahun yang menderita stroke berat pada September 2022 hingga mengalami kelumpuhan total akibat kolesterol tinggi yang tidak terdeteksi.
"Kadar kolesterol saya saat itu hampir dua kali lipat dari kadar normal, mencapai 9,8 mmol/L. Namun, saya belum pernah mengalami gejala yang tidak biasa sebelumnya, jadi saya tidak tahu bahwa saya memiliki kolesterol darah tinggi. Dokter menjelaskan bahwa kolesterol darah tinggi menyebabkan aterosklerosis, yang menyebabkan pembentukan bekuan darah, dan menyebabkan aneurisma dan pecahnya pembuluh darah di otak," ceritanya.
Data statistik menunjukkan tiga dari sepuluh orang dewasa mengalami kolesterol tinggi. Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah PERKI, dr. Susetyo Atmojo, Sp.JP, mengungkapkan bahwa postur tubuh langsing bukan jaminan seseorang terbebas dari penumpukan lemak visceral dan gangguan metabolik.
"Satu-satunya cara mengetahui kadar kolesterol adalah melalui pemeriksaan darah. Karena itu, pemeriksaan profil lipid secara berkala sangat penting, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat keluarga penyakit jantung, diabetes, atau hipertensi," ujar Susetyo.
Risiko penyakit kardiovaskular pada pemilik berat badan normal dengan gangguan metabolik tercatat dua hingga tiga kali lebih tinggi. Head of Brand and Marketing Daewoong, dr. Wicak Prasetiadi, menekankan pentingnya edukasi publik terkait deteksi dini.
"Kami ingin meningkatkan kesadaran bahwa pemeriksaan kolesterol secara rutin dan penanganan yang tepat merupakan langkah penting untuk mencegah penyakit kardiovaskular sejak dini," katanya.**
Secara medis, kolesterol merupakan zat lemak yang diperlukan tubuh untuk membentuk hormon, vitamin D, dan membran sel. Dokter Mufied menjelaskan bahwa bahaya utama muncul saat kadar Low-Density Lipoprotein (LDL) meningkat tidak terkontrol.
"Kolesterol bukan musuh tubuh. Yang perlu diwaspadai adalah ketika kadar kolesterol jahat atau sering disebut LDL meningkat dan tidak terkontrol, karena dapat memicu penyempitan pembuluh darah hingga meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke," jelasnya.
Banyak anggapan keliru di masyarakat mengenai penyebab naik turunnya kadar kolesterol. Dr. Mufied menegaskan faktor pola hidup dan genetik memegang peranan penting.
"Orang dengan berat badan ideal pun tetap bisa mengalami kolesterol tinggi apabila pola hidupnya kurang sehat atau memiliki riwayat keluarga," ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya membatasi asupan lemak jenuh serta lemak trans dibandingkan hanya menghindari makanan berkolesterol. Ketidakadaan gejala fisik membuat tes darah menjadi instrumen penentu utama.
"Karena itu, pemeriksaan kolesterol secara berkala sangat penting, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko," katanya.
Penggunaan obat-obatan penurun kolesterol seperti statin juga harus dilakukan di bawah pengawasan medis secara berkelanjutan. Dr. Mufied melarang pasien menghentikan konsumsi obat secara sepihak.
"Pengobatan bertujuan mengendalikan risiko jangka panjang. Karena itu, kepatuhan terhadap terapi dan perubahan gaya hidup harus berjalan beriringan," pungkasnya.
Untuk mengendalikan profil lipid, masyarakat disarankan menerapkan strategi medis meliputi konsumsi serat larut, asupan asam lemak omega-3, protein kedelai, serta olahraga teratur minimal 150 menit per minggu.