Otoritas Kesehatan Perkuat Pengawasan Penyakit Menular di Piala Dunia 2026
Otoritas kesehatan meningkatkan pengawasan terhadap potensi penyebaran penyakit menular selama turnamen Piala Dunia 2026 yang akan berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko pada 11 Juni hingga 19 Juli 2026. Langkah antisipasi ini dilakukan seiring perkiraan kedatangan lebih dari enam juta suporter ke berbagai kota tuan rumah, dilansir dari Detik Travel pada Rabu (17/6/2026).
Mobilitas tinggi serta penumpukan massa dalam jumlah besar dinilai menjadi faktor utama penularan penyakit. Tim ahli mengawasi pergerakan dari wilayah asal pelancong hingga lokasi pemusatan latihan tim nasional di tiga negara.
Rebecca Katz dari Health Security Operations Center di Georgetown University menjelaskan bahwa setiap acara berskala besar selalu membawa tantangan kesehatan tersendiri.
"Acara dengan jumlah massa besar selalu rumit. Selalu ada ancaman penyakit menular yang menyertainya," ungkap Rebecca Katz, Perwakilan Health Security Operations Center di Georgetown University.
Kompleksitas pengawasan kali ini meningkat secara signifikan karena turnamen sepak bola tersebut digelar di tiga negara penyelenggara sekaligus secara bersamaan.
"Ajang ini sangat rumit karena melibatkan tiga negara dan lebih dari 48 yurisdiksi berbeda, termasuk lokasi pemusatan latihan tim serta pergerakan orang di antaranya," ujarnya.
Penyakit yang masuk dalam daftar pantauan meliputi infeksi saluran pernapasan, gangguan pencernaan, infeksi menular seksual, hingga virus yang sedang merebak di Amerika Utara seperti campak, demam berdarah dengue, hepatitis A, dan mpox. Infeksi campak menjadi salah satu fokus utama petugas karena kasusnya telah terdeteksi di seluruh negara tuan rumah.
"Yang paling menjadi perhatian saat ini adalah campak. Kami telah melihat kasusnya di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko," jelasnya.
Selain penyakit endemik lokal, otoritas kesehatan juga memantau perkembangan wabah Ebola yang saat ini masih terjadi di Republik Demokratik Kongo dan Uganda.
"Melihat cara penularan Ebola dan langkah-langkah pengendalian yang sudah diterapkan, kami tidak terlalu khawatir penyakit ini menjadi ancaman bagi masyarakat di sini," kata Rebecca Katz, Perwakilan Health Security Operations Center di Georgetown University.
Petugas medis memanfaatkan teknologi pemantauan air limbah (wastewater monitoring) guna mendeteksi keberadaan patogen berbahaya lebih awal sebelum menyebar luas di masyarakat.
"Ini merupakan sumber data pengawasan yang sangat kuat. Jika ada satu kasus Ebola sekalipun, kami bisa menemukannya," lengkap Rebecca Katz, Perwakilan Health Security Operations Center di Georgetown University.